>>>Selamat Datang :::: Simak berbagai info menarik +++ Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email prabawa08s@gmail.com >>> Info pemasangan iklan by email atau SMS ke +6285217365999 ::: Terima kasih atas Kunjungannya dan semoga Bermanfaat <<<<

Tuesday, April 23, 2013

http://wanskawani.blogspot.com/ KAWANI MEDIA
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم




Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Imam Al-Bukhari, seorang Imam Ahli Hadits. Siapa di antara kaum muslimin yang tidak mengenal beliau? Minimal bagi kita yang mengaku sebagai seorang muslim, pernah mendengar nama beliau.

Sebuah kisah yang menarik,
yang terjadi di daerah An-Naisaburiy antara Imam Bukhari dan gurunya, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy. Dalam kisah ini, sang guru hasad terhadap Al-Bukhari , karena sebagian jama’ah pengajiannya pindah ke majelisnya Al-Bukhari. Oleh karena itu, sang guru menyebarkan berita dusta tentang Al-Bukhari. Kisah ini dimuat dalam kitab Siyar A’laamin Nubalaa karya Al-Imam Adz-Dzahabi (12/459).

Dari Ahmad bin Salamah, ia berkata, “Suatu hari aku masuk menemui Al-Bukhari, maka kukatakan padanya: Wahai Abu ‘Abdillah[1], orang ini (Adz-Dzuhliy) adalah orang yang perkataannya di dengar[2] di daerah Khurasan, khususnya di kota ini. Dan telah dekat perkataan ini, sampai tidak ada satu pun dari kami yang mampu berkata (menasehati) beliau. Lalu Apa pendapatmu?”

Maka Al-Bukhari memegang jenggotnya kemudian berkata, “Dan kupasrahkan semua urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah melihat (kondisi) hamba-hamba Nya.” (QS. Ghafir: 44)

“Yaa Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah menginginkan kedudukan di Naisaburiy ini karena sombong, tidak pula aku mecari kekuasaan. Akan tetapi diriku enggan untuk kembali ke kampung halamanku (Bukhara), karena banyaknya penyimpangan (kemaksiatan) di sana. Dan orang ini (Adz-Dzuhliy) telah bermaksud hasad kepadaku dengan apa yang telah Allah karuniakan padaku[3], dan tidak Allah berikan pada orang selain diriku.

Kemudian Al-Bukhari berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, aku akan pergi (dari Naisaburiy) esok hari, agar aku terbebas dari pembicaraan (Adz-Dzuhliy) karena membicarkanku.”[4]

Beberapa faedah yang bisa dipetik dari kisah ini

Seorang yang berstatus sebagai orang yang berilmu, tidak luput dari penyakit hati yang namanya hasad. Pada awalnya Al-Bukhari belajar pada Adz-Dzuhliy, dan ternyata Al-Bukhari menjadi lebih berilmu dibandingkan gurunya. Sebagian yang mengaji pada Adz-Dzuhliy pindah ke majelisnya Al-Bukhari. Kemudian Adz-Dzuhliy mengarang berita dusta tentang Al-Bukhari karena motivasi hasad. Lihatlah fenomena jaman sekarang, tidak sedikit ustadz yang satu menyerang ustadz lainnya karena motivasi hasad, yaitu jama’ah pengajiannya lebih sedikit atau pindah ke ustadz lainnya. Masalah pribadi dibawa ke dalam masalah manhaj. Wallahul Musta’an.

Al-Bukhari bukanlah seseorang yang berdakwah karena motivasi kedudukan, kekuasaan, atau pun sombong dengan ilmunya. Hendaknya setiap da’i yang menyeru di jalan Allah dapat meneladani sikap beliau. Dakwah itu bukan untuk mencari massa hingga yang didapatkan adalah kedudukan dan kekuasaan.

Suatu sikap yang sangat tepat, yang dilakukan oleh Al-Bukhari. Beliau menutup pintu perpecahan dengan cara mengalah. Dan boleh jadi hal itu karena Adz-Dzuhliy adalah salah satu gurunya[5]. Ia tidak ingin bersaing dengan orang yang pernah memberikan jasa kepadanya. Dan tidak ingin gurunya berdosa karena terus-menerus membicarakan beliau. Beliau mengalah dengan kembali ke kampung halamannya, dan qadarullah mewafatkan beliau sebelum beliau sampai di kampung halamannya.[6]

Al-Bukhari memasrahkan segala urusannya hanya kepada Allah. Karena ia berharap suatu saat Allah akan menampakkkan yang haq sebagai yang haq, dan bathil sebagai yang bathil. Dan terbukti kebenaran itu tampak dengan mendunianya karya beliau dari zaman ke zaman. Tersebarnya dan terjaganya karya beliau dari berbagai penjuru. Tidak ada satu pun orang Islam yang tidak pernah mendengar nama beliau kecuali keislamannya bisa diragukan. Dan pada akhirnya kaum muslimin mengenal siapa itu Al-Bukhari, dan boleh jadi baru mendengar pertama kali siapa itu guru Al-Bukhari, yaitu Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy.

[1] Kunyah Al-Bukhari

[2] Seperti tokoh masyarakat yang masyarakat manut dengan apa yang ia katakan

[3] Al-Bukhari diberikan ilmu yang lebih, bahkan melebihi gurunya

[4] Kitab Al-Ibanah, Syaikh Muhammad al-Imam, hal. 81

[5] Karena kita tidak boleh melupakan jasa seorang guru, meskipun sang guru pernah berbuat kezhaliman

Diposting Oleh : Wawan Sihabuddin

Wans Sihabuddin Anda sedang membaca artikel tentang Kisah al-Imam Bukhari dengan Gurunya. Anda diperbolehkan mengcopy paste isi blog ini, namun jangan lupa untuk mencantumkan link ini sebagai sumbernya. Beritahukan kepada saya jika ada Link yang rusak atau tidak berfungsi. Apabila suka dengan postingan ini silahkan di Like dan Share dengan tidak lupa Komentar dan Masukannya.

:: Get this widget ! ::

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin
Reaksi:

0 komentar:

Waktu Adzan

Pilih Artikel

Arsip Lain

Followers

Translite

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
By : Kawani

Sponsor

Random Post

Al-Qur'an

Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Shalat Tepat Waktu

Kalender Hijriyah




Perhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

Popular Posts

Space Ad

Ingin Berlangganan Post Terbaru

Subscribe via Email