>>>Selamat Datang :::: Simak berbagai info menarik +++ Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email prabawa08s@gmail.com >>> Info pemasangan iklan by email atau SMS ke +6285217365999 ::: Terima kasih atas Kunjungannya dan semoga Bermanfaat <<<<

Thursday, July 14, 2011

http://wanskawani.blogspot.com/ KAWANI MEDIA
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Tawadhu'

Disusun Oleh: Mahmud Muhammad al-Khazandar
Penerjemah : Team Indonesia
Murajaah : Eko Haryanto Abu Ziyad
Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
1429 – 2008

1 Tawadhu' (Rendah Hati)

'Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah I
melainkan Allah I akan mengangkat derajatnya.'
Allah I Maha Mulia dan menghendaki agar hamba-hamba-Nya
menjadi orang-orang yang mulia, bahwa luasnya kemuliaan mereka tidak
merasa lebih tinggi di atas saudara-saudara mereka. Maka saat itu ia merasa
bangga terhadap diri sendiri, merasa di atas yang lain, dan merendahkan
kedudukan mereka.

Dan Allah I memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan
memberi petunjuk untuk beriman. Maka jika mereka enggan dan memilih
kesesatan, maka Dia I Maha Kuasa mengganti mereka dengan satu kaum
yang mulia dengan iman mereka dan merendahkan diri terhadap saudarasaudara
mereka:

ياأَيها الَّذِين ءَامنوا من يرتد مِن ُ كم عن دِينِهِ فَسوف يأْتِي اللهُ بِقَومٍ يحِب هم ويحِبونه َأذِلَّةٍ علَى الْ  مؤمِنِينَأعِزةٍ علَى الْكَافِرِين يجاهِ  دونَ فِي سبِيلِ اللهِ ولاَ يخاُفونَ َلومةَ لآَئِمٍ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…. (QS. al-Ma`idah:54)

Maka inilah sifat lemah-lembut terhadap orang-orang beriman yang
merupakan sifat orang-orang terpilih untuk membawa agama ini –saat
murtadnya orang-orang yang murtad darinya-.
Dan dalam tafsir ayat: َأذِلَّةٍ علَى الْ  مؤمِنِينَ :maksudnya santun kepada orang orang
beriman, kasih sayang dan lemah lembut terhadap mereka… dan
bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan memusuhi mereka. Ibnu
Abbas t berkata: 'Sikap mereka terhadap orang-orang beriman seperti
seorang ayah terhadap anak dan majikan terhadap budak, dan sikap mereka
terhadap orang-orang kafir seperti binatang buas terhadap mangsanya.
Firman Allah :

َأشِدآءُ علَى الْ ُ كفَّارِ رحمآءُ بين  هم
(Mereka) keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka... (QS. al-Fath:29)

Dan dalam penggunaan huruf jar dalam firman Allah : َأذِلَّةٍ علَى الْ  مؤمِنِين  ada dua
penafsiran: Menurut satu pendapat (ia mengandung pengertian kasih sayang
dan santun, seakan-akan Dia  berfirman: Bersifat santunlah kepada orang orang
beriman dengan cara merendahkan diri dan tawadhu'. Dan menurut
pendapat yang lain sesungguhnya ('Ala/di atas) menunjukkan tingginya
kedudukan mereka, dan sekalipun mereka mulia dan tinggi kedudukannya,
mereka tetap tawadhu' terhadap orang yang lebih rendah kedudukannya.
Mulia adalah sifat yang terpuji, sedangkan sombong terhadap orang
lain dan membanggakan diri ('ujub) adalah sifat tercela. Dan sesungguhnya
Allah I merendahkan nilai dunia dalam pandangan orang yang beriman dan
menyatakan hinanya terhadap Allah I, agar semua manusia menyadari
bahwa sesungguhnya Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya…. (QS. Fathir:10)

Dan sesungguhnya Allah  memuliakan wali-wali-Nya dengannya, sekalipun
mereka berada di puncak cobaan (musibah,bala):
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orangorang
mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. al- Munafiqun:8)

Bersama semua kemuliaan ini, yang dituntut dari seorang mukmin adalah
sikap keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang bersama orangorang
beriman. Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang tawadhu': 'Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan tawadhu' –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…'
Sesungguhnya di antara pendidikan adab yang diajarkan Rasulullah
kepada orang-orang beriman terhadap makhluk, sesungguhnya Rasulullah
berdo'a:

"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam
keadaan miskin, dan giringlah aku (di hari kiamat) dalam golongan orangorang
miskin."

Ibnu al-Atsir rahimahullah berkata: maksud beliau adalah tawadhu' dan
merendahkan diri, dan agar beliau tidak termasuk orang-orang sombong
yang congkak. Khalifah Umar t mendidik para penjabatnya agar bersifat
rendah hati terhadap rakyat dan melarang mereka menghinakan manusia,
sebagaimana dia t mengajarkan kepada manusia tentang hak mereka agar
mereka hidup secara mulia. Dan di antara khotbahnya: 'Ketahuilah,
sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengutus para penjabatku untuk
memukul kulitmu dan tidak pula untuk mengambil hartamu, akan tetapi
aku mengutus mereka kepadamu untuk mengajarkan kepadamu agama dan
sunnahmu. Maka barangsiapa yang diperlakukan selain yang demikian itu,
maka hendaklah ia melaporkannya kepadaku. Maka demi Allah  yang
diriku berada di tangan-Nya, tentu aku akan mengqishashnya
darinya…ketahuilah, janganlah kamu memukul kaum muslimin, maka kamu
merendahkan mereka… Dan Umar  berpesan kepada para penjabatnya
terhadap daerah terlarang dengan ucapannya: 'Rendahkanlah dirimu
terhadap kaum muslimin, hati-hatilah terhadap doa kaum muslimin, maka
sesungguhnya doa orang-orang yang dianiaya dikabulkan.

Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian tinggi dan jiwa besar
serta sifat tawadhu’ yang mantap. Sekalipun nafsu membisiki bahwa
pengakuan engkau bisa menjatuhkan martabat engkau. Maka bersungguh sungguhlah untuk berada di atas kebenaran, sebagaimana menerima
permohonan maaf juga merupakan sifat tawadhu’ dan kemuliaan yang tinggi.
Maka jiwa yang kotor mengharapkan kesalahan orang lain, agar merasa puas
dengan memberi kritik, intropeksi dan ketenaran. Ibnu al-Qayyim
rahimahullah mengungkapkan hal ini dengan katanya:
‘Barangsiapa yang berbuat jahat kepadamu, kemudian ia datang meminta maaf terhadap kesalahannya. Maka sesungguhnya sifat rendah diri mengharuskan engkau menerima permohonan maafnya –apakah permohonan maafnya itu benar
atau hanya berpura-pura- dan menyerahkan kebenarannya kepada Allah.

Dan tanda pemurah dan tawadhu adalah sesungguhnya apabila engkau
melihat kekurangan dalam permintaan maafnya, janganlah engkau
menghentikannya dan memperdebatkannya. Maka menjauhlah dari
perasaan berat, baliklah lembaran hidup, dan mulailah dari yang baru,
temanmu akan merasa segan terhadapmu karena engkau menerima
permohonan maafnya dan tidak terlalu mempersoalkan permohonan
maafnya. Dan apabila engkau bersikeras meletakkan temanmu pada posisi
merendahkannya dan menghitungnya dalam perhitungan ragu-ragu, berarti
engkau telah berani memerangi Allah , dan engkau tidak pernah mampu
melakukannya, seperti disebutkan dalam hadits qudsi:

“Barangsiapa yang memerangi waliku, berarti ia menyatakan perang
terhadapku.”
Allah I adalah wali setiap orang yang beriman.

Sesunguhnya orang yang maju ke depan untuk memimpin manusia,
mengarahkan mereka, menarik hati mereka maka ia harus memiliki rasa
rendah diri yang tinggi. Karena itulah Allah I menyuruh Nabi-Nya dengan
firman-Nya:

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu
orang-orang yang beriman. (QS. asy-Syu'ara :215)

Maka bagaimana keadaan umat sesudah beliau  sedang mereka lebih
rendah kedudukan dan akhlak- tidak merendahkan diri mereka? Dan
disebutkan dalam hikmah: Barangsiapa yang selalu rendah diri niscaya
banyak temannya. Maka bila engkau ingin mencari para pendukung
terhadap dakwahmu, engkau harus rendah diri. Jauhilah sikap ujub dan
sombong, dan yang paling berbahaya adalah perasaan ujub dalam ibadah
yang membuat engkau menganggap remeh orang lain karena ibadahmu.
Karena itulah diriwayatkan dari al-Mutharrif rahimahullah, ia berkata:
‘Sungguh aku tidur di malam hari dan menyesal di pagi hari, lebih kusukai
dari pada shalat di malam hari dan di pagi hari merasa bangga (ujub).

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mendefinisikan tawadhu’ dengan
katanya: yaitu merendahkan diri terhadap kebenaran, tunduk kepadanya,
dan menerimanya dari orang yang mengatakannya. Tunduk terhadap
kebenaran adalah kemuliaan yang sebenarnya, karena ia adalah taat kepada
Allah , kembali kepada kebenaran, dan membiasakan diri agar tidak terus menerus di atas kebatilan. Karena itulah Nabi r bersabda:

“Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah  kecuali Allah
meninggikan derajatnya. Barangsiapa yang tujuannya adalah mencari ridha Allah , tunduk terhadap kebenaran terasa mudah baginya, seperti yang diriwayatkan dari Ubaidullah bin al-Hasan al-Anbari rahimahullah, sesungguhnya ia ditanya tentang meminta, lalu ia keliru padanya. Maka tatkala ia diingatkan terhadap
kekeliruannya, ia menundukkan kepalanya sesaat lalu berkata: ‘Kalau begitu
saya kembali, dan saya seorang yang hina. Sungguh aku berdosa dalam
kebenaran lebih kusukai dari pada aku menjadi pimpinan dalam kebatilan.
Seperti inilah orang yang berilmu, ia rendah diri karena Allah I dan tunduk
terhadap kebenaran, karena itulah tujuannya, sekalipun di antara dia dan
orang yang kebenaran ada pada lisannya itu ada permusuhan dan perselisihan.

Tidak tunduk terhadap kebenaran adalah kesombongan yang sebenarnya dan kezaliman, karena itulah Rasulullah r mendefinikan takabur dengan sabdanya:

ا“Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Dengan ini kita melihat bahwa tawadhu, di samping sebagai akhlak yang
terpuji, ia merupakan penjaga agar tidak terjerumus dalam perbuatan zalim,
dan memelihara dari sifat sombong dan berbangga diri terhadap saudarasaudara
seagama. Disebutkan dalam hadits:
“Sesungguhnya Allah  mewahyukan kepadaku: bersifat tawadhu’lah,
sehingga seseorang tidak merasa bangga terhadap orang lain dan seseorang
tidak berbuat aniaya terhadap orang lain. Kendati kedudukan Rasulullah  sangat tinggi, sesungguhnya ketika beliau melihat seseorang gemetar karena takut terhadap beliau, karena ia mengira beliau sama seperti raja-raja di muka bumi, beliau bersabda kepadanya:

“Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah seorang
anak dari seorang perempuan suku Quraisy yang memakan daging
dendeng".
Di antara kesempurnaan tawadhu’nya Rasulullah  bahwa beliau  membantu keluarganya –sedangkan beliau mampu meminta bantuan
pembantu- dan memberi salam kepada anak-anak yang beliau temui di
tengah jalan –sedangkan beliau adalah yang ditakuti para raja. Sehingga saat
beliau berada di puncak kekuatan dan kemenangannya, beliau tidak
bersikap keras di muka bumi. Maka tatkala di hari memerangi Bani
Quraizhah, beliau berada di atas keledai yang dikekang dengan tali dari
sabut. Dan saat beliau memasuki kota Makkah sebagai pemenang, beliau
menundukkan kepalanya karena tawadhu’ kepada Allah  karena khawatir
terhadap penyusupan rasa takabur ke dalam jiwa pemenang, yang dibisikan
oleh hawa nafsunya bahwa dialah yang membuat kemenangan dan
melupakan karunia dan taufik Allah . Syaikhul Islam rahimahullah
menggambarkan keadaan Rasulullah  dengan katanya:
 ‘Sesungguhnya beliau memilih sifat hamba –penghambaan- sekalipun beliau dan para pengikutnya adalah yang tertinggi, dan beliau tidak menghendaki yang
tertinggi, sekalipun telah memperolehnya.

Dan cukuplah bagi orang-orang yang sombong agar kembali ke jalan
yang lurus bahwa mereka menyadari bahwa Allah I tidak menyukai mereka,
memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, mengunci hati mereka, dan
mengancam akan memusnahkan mereka, dan barangsiapa yang di hatinya
mengandung sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi, niscaya Allah
 akan menjerumuskannya ke dalam neraka.

Hukuman balasan seperti ini karena ada kandungan sifat sombong seberat biji sawi. Maka seseorang sangat membutuhkan pelatihan untuk menjaga hatinya dari perasaan sombong, ‘ujub, dan terperdaya. Dan tidaklah mendorong seseorang bersikap sombong kecuali perasaan ingin berbeda dengan lain, atau keinginan tidak tunduk terhadap seseorang, atau berusaha menutupi kekurangan pribadinya, dan semua itu membinasakan seseorang:

“…Maka yang membinasakan, yaitu sifat pelit yang dituruti, hawa nafsu yang
diikuti, dan perasaan ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.”

Sebagaimana orang yang tawadhu’ cukup dengan menyadari bahwa
Allah  meninggikan derajatnya dan sesungguhnya hamba-hamba Allah
menyukainya, sesungguhnya Rasulullah r adalah suri tauladannya, dan
sesungguhnya ia lebih mengetahui kebesaran Rabb-Nya dan kekurangan
dirinya. Maka berhati-hatilah dari terperosok bersama waswas syetan dan
hawa nafsu, semoga engkau termasuk orang-orang yang dicintai Allah  dan
mereka mencintai-Nya:

…yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap
keras terhadap orang-orang kafir, . (QS. al-Ma`idah:54)

Kesimpulan:
1. Orang-orang yang dicintai Allah  dan mereka mencintainya adalah
orang-orang yang tawadhu.
2. Tidak ada kontradiksi di antara sikap keras terhadap orang-orang kafir
dan sikap lembut terhadap orang-orang yang beriman.
3. Khalifah Umar t mendidik para penjabatnya agar bersifat rendah diri
terhadap rakyat mereka.
4. Termasuk sifat tawadhu adalah mengakui kesalahan dan menerima
permohonan maaf dari orang lain.
5. Merendahkan diri termasuk sifat orang yang maju untuk memimpin
manusia.
6. Termasuk tawadhu adalah tunduk terhadap kebenaran dan mematuhinya.
7. Termasuk yang membantu sifat tawadhu adalah mengingat asal kejadian
manusia.
8. Sifat tawadhu yang paling agung adalah saat berada di puncak kekuatan
dan kemenangan.
9. Termasuk yang membantu bersifat tawadhu adalah mengingat pahala
tawadhu dan ancaman dosa terhadap orang-orang yang sombong.
10. Cukuplah sebagai kemuliaan orang yang tawadhu adalah kecintaan
hamba-hamba Allah  kepadanya dan Allah  meninggikan derajatnya.

Diposting Oleh : Wawan Sihabuddin

Wans Sihabuddin Anda sedang membaca artikel tentang TAWADU'U. Anda diperbolehkan mengcopy paste isi blog ini, namun jangan lupa untuk mencantumkan link ini sebagai sumbernya. Beritahukan kepada saya jika ada Link yang rusak atau tidak berfungsi. Apabila suka dengan postingan ini silahkan di Like dan Share dengan tidak lupa Komentar dan Masukannya.

:: Get this widget ! ::

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin
Reaksi:

0 komentar:

Waktu Adzan

Pilih Artikel

Arsip Lain

Followers

Translite

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
By : Kawani

Sponsor

Random Post

Al-Qur'an

Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Shalat Tepat Waktu

Kalender Hijriyah




Perhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

Popular Posts

Space Ad

Ingin Berlangganan Post Terbaru

Subscribe via Email