>>>Selamat Datang :::: Simak berbagai info menarik +++ Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email prabawa08s@gmail.com >>> Info pemasangan iklan by email atau SMS ke +6285217365999 ::: Terima kasih atas Kunjungannya dan semoga Bermanfaat <<<<

Tuesday, July 19, 2011

http://wanskawani.blogspot.com/ KAWANI MEDIA
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

MENGUNGKAP KEBATILAN ARGUMEN PENENTANG TAUHID
Karya :
SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Penerjemah :
ABU MUSHAB
Murajaah :
DR.MUH.MU’INUDINILLAH BASRI, MA
ERWANDI TARMIZI
Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
1428 – 2007

Ketahuilah wahai Saudaraku seiman, -semoga Allah
senantiasa memberi rahmat kepada anda-, bahwa
sesungguhnya “TAUHID” adalah mengesakan Allah
dalam beribadah. Dan tauhid ini adalah agama para
rasul, yang Allah utus mereka untuk membawa agama
itu kepada hamba-hamba-Nya. Rasul yang pertama

(dari rasul-rasul Allah) adalah Nabi Nuh (1). Beliau
diutus Allah kepada kaumnya disaat mereka terlalu
berlebih-lebihan memuja orang-orang shaleh mereka
yaitu: Wadda, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr,
sedangkan penutup para rasul ialah Nabi Muhammad
. Beliaulah yang telah menghancurkan patung orangorang
shaleh tersebut. Beliau di utus oleh Allah kepada
suatu kaum yang senantiasa beribadah, berhaji,
bersedekah, dan memperbanyak dzikir (ingat) kepada
Allah, akan tetapi mereka masih menjadikan makhluk
sebagai perantara antara mereka dengan Allah .
Lantas mereka mengatakan, "Kami inginkan dari
mereka (para perantara tersebut) sebagai pendekatan
kepada Allah (2) Kami ingin syafa’at (pertolongan)
1) Yakni rasul pertama yang diutus oleh Allah untuk mengajak kaumnya pengesaan Allah
serta mencegah mereka dari menyekutukan Allah (syirik), sedang yang pertama dari
para nabi secara mutlak adalah Adam .
2) Para ulama telah sepakat, bahwasanya barang siapa yang menjadikan antara dia dengan
Allah suatu perantara dan berdo’a dengan perantara itu dengan sangkaan bahwa
perantara itu dapat mendekatkan dia kepada Allah, maka hukumnya kafir, keluar dari
agama Islam, hal ini sebagaimana disebut dalam kitab: “Kasyafu Al –Qina’ ‘ala Matni
mereka di sisi Allah, seperti para Malaikat, Nabi Isa,
Maryam dan manusia lain dari orang-orang shaleh
lainnya.
Maka Allah mengutus Nabi Muhammad untuk
memperbaharui agama bapak mereka, Ibrahim .
Sambil memberi tahu mereka bahwa taqarrub
(pendekatan) dan I’tiqad (keyakinan hati) itu sematamata
hak Allah . Tidak patut bagi selain Allah,
termasuk tidak patut bagi Malaikat pun, tidak juga
bagi seorang nabi yang diutus. Apalagi bagi selain dari
keduanya.
Demikianlah semestinya, orang-orang musyrikpun
bersaksi, bahwa hanya Allah yang maha Esa Pencipta,
tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya tidak ada
yang mampu memberi rezki selain Dia, tiada yang
menghidupkan selain Dia, tiada yang mematikan selain
Dia, dan bahwasanya seluruh langit berikut
penghuninya dan seluruh bumi yang tujuh berikut
penghuninya adalah hamba-Nya dan dibawah tindak
dan kekuasaan-Nya.
Jika anda ingin dalil yang menunjukkan bahwa
orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rasulullah
itu bersaksi dengan hal tersebut, maka silahkan baca
firman Allah :
Al Iqna’ " dalam bab: Hukmu Al Murtad”. Dan perbuatan seperti itu yang ada pada
penyembah-penyembah kuburan pada saat ini, sama dan tidak ada bedanya.

"Katakanlah: siapakah yang memberi rizki
kepadamu dari langit dan bumi atau siapakah yang
kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang
mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan
siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka
akan menjawab: Allah. Maka katakanlah: mengapa
kamu tidak bertaqwa ( kepada-Nya)". ( Yunus: 31)
Dan firman-Nya:

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini dan
semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah"
Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?
Katakanlah: "Siapakah empunya langit yang tujuh dan
empunya Arsy yang besar? Mereka akan menjawab:
"Kepunyaan Allah. Katakanlah: "Maka apakah kamu
tidak bertakwa?. Katakanlah: "Siapakah yang di
tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu
sedang Dia melindungi, tetapi tidak dapat dilindungi
(seorangpun) dari (azab) Nya, jika kamu mengetahui?’
Mereka akan menjawab: "Kepuyaan Allah", Katakanlah:
(kalau demikian), maka dari jalan mana kamu ditipu".
(Al-Mu’minun: 84-89).
Dan ayat-ayat lain.
Apabila sudah terang bagi anda, bahwa orangorang
musyrik itu mengakui (mengimani) Tauhid
Rububiyah ini, tetapi hal itu belum dapat memasukkan
mereka dalam (jenis) tauhid yang menjadi tujuan
dakwah Rasulullah Kepada mereka, dan Anda sudah
tahu, bahwa tauhid yang mereka ingkari adalah tauhid
Ibadah, yang orang-orang musyrik pada masa kita
menyebutnya dengan Al-I’tiqad (kepercayaan hati).
Sebagaimana mereka senantiasa berdo’a Kepada Allah
sepanjang malam dan siang hari. Kemudian di
antara mereka ada yang berdo’a kepada Malaikat,
lantaran malaikat itu shaleh dan dekat kepada Allah,
agar para malaikat dapat memberikan syafa’at
kepadanya. Atau ada juga yang berdo’a kepada seorang
lelaki shaleh, Latta misalnya, atau kepada (seorang)
nabi seperti Nabi Isa , dan anda pun telah tahu
bahwasanya Rasulullah memerangi orang-orang
musyrik itu karena kesyirikan ini (3) dan mengajak
(3) Yaitu berdo’a (menyembah) selain Allah disamping menyembah Allah. Allah
berfirman, yang artinya: Maka janganlah kamu berdoa menyembah seorangpun ( di
dalam masjid-masjid itu) disamping ( menyembah ) Allah .(QS Al-Jin : 18).
mereka kepada keikhlasan beribadah, seperti firman
Allah:

“Maka janganlah kamu berdo’a/ menyembah
seseorang (di dalam masjid-masjid itu) disamping
(menyembah) Allah.”(QS. Al-Jin:18).
Dan firman Allah yang lain:

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang
benar. dan berhala-berhala yang mereka sembah selain
Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi
mereka.” (Ar-Ra’ad:14).
Dan sudah jelas bagi anda, bahwa Rasulullah
memerangi orang-orang musyrik itu agar seluruh do’a
hanya ditujukan kepada Allah saja, seluruh nazar
hanya untuk Allah, seluruh penyembelihan hanya
untuk Allah, seluruh istighatsah (permohonan
pertolongan) hanya kepada Allah. Dan semua bentuk
amal ibadah hanya untuk Allah. Dan anda pun tahu
bahwa pengakuan orang-orang musyrik terhadap
tauhid Rububiyah itu belum dapat memasukkan
mereka ke dalam agama Islam, selama mereka
memohon kepada malaikat, para Nabi dan para Wali
untuk menginginkan pertolongan mereka. dan
pendekatan kepada Allah dengan cara seperti itu, hal
Ayat tersebut menunjukkan bahwa berdo’a kepada para mayit, menyeru dan minta
pertolongan kepada mereka adalah termasuk syirik akbar yang tidak akan diampuni
dosa syirik itu kecuali dengan taubat dari perbuatan tersebut.
ini lah yang membuat darah dan harta benda menjadi
halal (diambil oleh kaum muslimin sebagai ghanimah).
Ketika Anda sudah tahu semua itu, maka ketika itu
pula anda tahu benar tauhid yang dianjurkan oleh
para Rasul dan (tauhid itu pula) yang orang-orang
musyrik membangkang untuk mengakui
(mengimani)nya.
Tauhid yang dimaksud di atas adalah makna
ucapan anda:
)

Karena sesungguhnya sesembahan (tuhan) bagi
orang-orang musyrik adalah (sasaran) yang mereka
tuju untuk hal-hal seperti itu (4) Baik sesembahan
tersebut berupa malaikat, seorang Nabi, Wali, Pohon,
kuburan ataupun jin. mereka tidak meyakini
bahwasanya sesembahan itu yang menciptakan, yang
memberi rezki dan yang mengatur segala urusan,
sebenarnya mereka mengetahui bahwa segala sesuatu
adalah milik Allah semata, sebagaimana yang sudah
saya kemukakan di atas. Akan tetapi mereka
menghendaki sesembahan seperti apa yang
dikehendaki orang-orang musyrikin pada zaman kita
dengan lafazh Sayyid. Lalu Nabi Muhammad
mendatangi mereka untuk mengajak dan menyeru
mereka kepada kalimat tauhid, yaitu:

( 4) Ya’itu dengan minta syafa’at (pertolongan) kepada mereka dan bertujuan menghadap
kepada Allah dengan menyeru kepada mereka, tidak kepada Allah atau menyeru
mereka disamping berdo'a kepada Allah.
(tidak ada sesembahan yang paling berhak
disembah kecuali Allah)
Yang di maksud dari kalimat itu adalah makna
sebenarnya, bukan sekedar lafazhnya saja.
Orang-orang kafir yang bodoh pun mengerti, bahwa
yang dimaksud Nabi dengan kalimat itu adalah
mengesakan Allah dengan selalu bergantung
kepada-Nya (5), Serta mengingkari dan berlepas dari
semua bentuk sembahan selain Allah, maka dari itu,
tatkala beliau menyeru kepada mereka: “Katakanlah:

(tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah),
mereka mengatakan :

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang
satu saja? sesungguhnya ini benar-benar suatu hal
yang sangat mengherankan. ( QS: Shaad: 5).
Oleh karenanya, jika anda sudah tahu, bahwasanya
sebodoh-bodohnya orang kafir saja mengetahui hal itu,
maka sangat aneh sekali, ada orang yang mengaku
dirinya muslim sementara tidak tahu penafsiran
Kalimat:
( 5) Yakni: selalu terpaut dengan Allah maka tidak pernah mengharap-harap kepada
siapapun kecuali kepada Dia. Tidak berdo’a kepada selain Dia. Tidak memohon
kebutuhan-kebutuhan kecuali kepada Dia. Dan tidak memohon pertolongan kecuali kepada Dia.
bahkan dia berperasangka, bahwa penafsiran
kalimat itu (6) adalah sekedar talaffuzh (melafazhkan)
huruf-hurufnya tanpa ada keyakinan hati terhadap
sesuatupun dari makna-maknanya. Dan orang yang
pandai diantara mereka (bahkan) menyangka,
bahwasanya makna kalimat tauhid tersebut adalah
“Tidak ada Yang menciptakan dan Yang Memberi rezki
kecuali Allah (7). Maka jelas orang semacam itu tidak
ada kebaikannya sama sekali. Justru, sebodohbodohnya
orang kafir (masih) lebih mengetahui makna dari pada dia.
Apabila anda sudah tahu apa-apa yang sudah saya
sebutkan kepada anda dengan pengetahuan yang
yakin, dan anda sudah tahu juga tentang syirik
(menyekutukan) Allah yang di sitir oleh Allah dalam
firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selainnya
untuk orang yang Dia kehendaki”. (QS. An-Nisa’:48).
(6) Yakni dia menyangka bahwa penafsiran kalimat ini hanya sekedar mengucapkan saja,
dan prasangka seperti ini jelas tidak benar, justru yang dimaksud dari penafsiran
kalimat itu adalah seperti yang sudah dijelaskan oleh penulis –rahimahullah.- diatas ,
yaitu kalimat tauhid yang dimaksud oleh Nabi .
( 7) Saya katakan: "betapa banyak golongan manusia yang semacam itu, yah semoga Allah
tidak memperbanyak golongan manusia semacam itu. Mereka menyangka bahwa
ma’na dan maksud kalimat tauhid itu adalah Tauhid Rububiyah, untuk itu mereka
bodoh tentang Tauhid Ibadah, dan mempraktekannya kepada selain Allah, lalu
mereka memohon kepada orang-orang mati dan ghaib sesuatu yang hanya Allah
semata yang kuasa untuk mewujudkannya, hal ini merupakan Syirik Akbar, meskipun
mereka menamakannya tawassul untuk menyusupkan kebatilannya dan mengelabui
orang.

Dan anda juga sudah tahu agama Allah yang Allah
telah mengutus para Rasul dari yang pertama sampai
yang terakhir dengan membawa agama itu, dan hanya
agama itulah yang diterima disisi Allah. Serta anda
sudah tahu, kini sebagaian besar manusia tidak
mengerti tentang agama Allah itu. Itu semua memberi
anda dua pelajaran:
Pelajaran pertama: Bergembira atas karunia dan
rahmat Allah sebagaimana firman-Nya :

“Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-
Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia
Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa
yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus: 58).
Pelajaran kedua: Rasa takut yang sangat, karena
jika anda sudah tahu, bahwa seseorang dapat menjadi
kafir lantaran sebuah kalimat yang keluar dari
lisannya, meski terkadang ia mengucapkan kalimat itu
sementara dia tidak mengerti bahwa itu kata-kata
kufur, maka tidak dapat diterima udzur kebodohannya
dengan perasangka, bahwa kalimat itu dapat
mendekatkan dia kepada Allah sebagaimana
prasangka orang-orang musyrik, khususnya jika Allah
memberi ilham anda tentang kisah kaum Nabi Musa
dengan keshalehan dan pengetahuan mereka masih
saja datang kepada Nabi Musa sambil berkata:

"Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala),
sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan
(berhala).” (QS. Al-A’raf:138).
Maka ketika itu akan semakin besar rasa keinginan
anda untuk membebaskan diri dari kekufuran itu(8)
dan yang semacamnya.
Dan ketahuilah wahai sudaraku seiman, bahwa
Allah karena hikmah-Nya tidak pernah mengutus
seorang Nabi pun dengan membawa tauhid kecuali
menjadikan bagi nabi itu musuh-musuh yang
memusuhi dakwahnya. Hal ini ditegaskan oleh Allah
dalam firman-Nya:


“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi
itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan
(dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada
sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah
untuk menipu (manusia agar tidak beriman kepada
Nabi). “(QS.Al-An’am:112).
( 8) Yakni terbebas dari kekufuran dan sebab sebabnya karena sesungguhnya para ulama
yang shalih itu telah memohon kepada nabi Musa agar membuatkan bagi mereka
sebuah Tuhan(berhala) sehingga mereka dapat berdo’a / menyembahnya disamping
menyembah Allah atau menyembah berhala itu sendiri tanpa menyembah Allah, ini
sama dengan keadaan para penyembah kuburan pada masa kini, mereka mendekatkan
diri kepada Allah dengan memohon kepada para mayit, menyembelih untuk mayitmayit
itu pula, hal ini jelas kufur, yang dapat menghalangi mereka dari rahmat Allah .
Terkadang musuh-musuh tauhid itu mempunyai
ilmu yang banyak (dari berbagai disiplin ilmu), bukubuku
dan hujjah-hujjah (argumentasi-argumentasi),
sebagaimana yang di firmankan oleh Allah:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul
(yang diutus kepada) mereka dengan membawa
keterangan-keterangan, mereka merasa bangga dengan
(ilmu) pengetahun yang ada pada mereka.” (QS.ALMu’min
:83).
Jika anda tahu hal di atas ini, di samping anda
juga sudah tahu, bahwa jalan menuju kepada Allah itu
harus dan pasti menghadapi musuh-musuh dari
kalangan orang-orang ahli falsafah, pakar (dalam
berbagai disiplin) ilmu serta orang-orang yang pintar
berargumentasi yang selalu duduk (menghalanghalangi)
pada jalan (yang lurus) itu, maka wajib bagi
anda untuk mempelajari agama Allah apa-apa yang
anda dapat jadikan sebagai senjata untuk memerangi
syetan-syetan itu, yang mana pemuka dan pemimpin
mereka: Iblis telah berikrar kepada Rabb Yang Maha
Agung:


“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi)
mereka dari jalan engkau yang lurus. Kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang
mereka, dari kanan dan kiri mereka…” (QS. Al-A’raf:
16-17).
Namun, jika anda menghadap menuju kepada Allah
dan telah mendengarkan (dengan sungguh-sungguh)
hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan Allah, maka
jangan anda merasa takut, sebab:

“Sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.”
(An-Nisa’: 76).
Dan seorang awam dari orang-orang yang
mengesakan Allah dapat mengalahkan seribu dari
ulama’-ulama’ kaum musyrikin. Sebagaimana
ditegaskan oleh Allah :

“Dan sesungguhnya tentara kami (rasul dan serta
pengikutnya) itulah yang pasti menang.” (QS.As-
Shaffat:173).
Maka, sudah pasti tentara Allahlah yang akan
menang dengan hujjah dan lisan (9), sebagaimana
( 9) Yang dimaksudkan tentara Allah disini adalah orang-orang yang menjalankan
kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah kepada mereka, mereka
mengamalkan ni’mat yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih, mendengarkan dengan sungguh-sungguh hujjah-hujjah
dan keterangan-keterangan Allah, dan mau mempelajari semua itu dengan keinginan
yang benar dan niat yang ikhlas kemudian mereka mengajak manusia kepada hal itu,
karena sesungguhnya menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan menyeru manusia
kepada ilmu itu adalah termasuk kewajiban seorang muwahhid meskipun manusia
tidak dituntut untuk itu, sebagaimana yang sudah disebutkan oleh penulis pada
pembahasan dasar pertama dari ketiga dasar, ya’ni di risalah Al Usul Ats Tsalatsah.
mereka (tentara Allah) itu menang dengan pedang dan
tombak. Akan tetapi perasaan takut itu hanya pada
muwahhid (orang yang mengesakan Allah) yang
menapaki jalan (Allah) tanpa membekali dirinya
dengan senjata.
Sungguh, Allah telah memberi nikmat
kepada kitab-kitab suci-Nya yang telah Dia jadikan
kitab suci itu:

“Untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk
serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri (muslimin).” (QS. An-Nahl:89).
Oleh karenanya pembela kebatilan tidak akan
datang dengan suatu hujjah kecuali sudah tercantum
dalam Al-Qur’an jawaban yang membatalkan
hujjahnya serta menjelaskan kebatilan hujjah itu.
Seperti yang sudah difirmankan oleh Allah :

“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu
(membawa) sesuatu yang perumpamaan yang ganjil
melainkan Kami datangkan kepada kamu suatu yang
benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS. Al-
Furqan:33).
Sebagian ulama tafsir mengatakan, bahwa ayat itu
bersifat umum untuk semua bentuk hujjah yang akan
didatangkan oleh ahlu batil sampai hari kiamat.

Saya akan menuturkan kepada anda beberapa
hal(10) yang sudah disebut oleh Allah dalam kitab-Nya
sebagai jawaban terhadap suatu ucapan yang dipakai
hujjah oleh orang-orang musyrik pada zaman
kami(yang ditujukan) kepada kami. Maka, kami akan
katakan: Jawaban untuk para pengikut kebatilan itu
ada dua cara:
1-Mujmal (secara global)
2-Mufashshal (secara terperinci).
Jawaban secara mujmal itu merupakan sesuatu
yang agung dan merupakan pelajaran yang besar bagi
orang-orang yang mau memikirkannya. Hal itu adalah
firman Allah :

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an)
kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang
muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang
lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan , maka
mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dari
padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari
takwilnya”(QS. Ali Imran:7).
( 10) Penulis rahimahullah ingin menerangkan keadaan–keadaan musuh-musuh Allah dan
musuh-musuh para Rasul-Nya yang senantiasa menghadang pada jalan kepada
pengetahuan tentang agama Allah serta menghalangi manusia dari jalan itu.
Sebuah hadits shahih (dalam shahih Bukhari dan
muslim) dari ‘Asyiah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya
Rasulullah bersabda:

“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti
ayat-ayat yang mutasyabihat, maka mereka itulah
orang-orang yang disebut oleh Allah: (dengan sebutan
“fi qulubihim zaigh”), maka waspadalah kalian terhadap
mereka.”
Sebagai contoh atas hal itu, apabila sebagian orangorang
musyrik itu mengatakan kepada anda:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.” (QS.Yunus: 62).
Dan bahwa Syafaat itu sesuatu yang haq (benar),
dan bahwa para nabi itu mempunyai kedudukan dan
tempat di sisi Allah. Atau sebagaimana orang musyrik
itu menyebut suatu ucapan dari Nabi yang ia
gunakan dalil bagi suatu hal dari kebatilannya,
sementara anda tidak mengerti makna ucapan yang ia
sebut itu, maka hendaklah anda jawab dengan ucapan:
"Sesungguhnya Allah sudah menyebut bahwa orangorang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,
mereka meninggalkan ayat-ayat muhkamat dan
mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat. Dan apa yang
saya tuturkan kepadamu, bahwa Allah telah menyebut
bahwa orang-orang musyrik itu sama mengakui tauhid
rububiyah dan bahwa kekufuran mereka adalah
dengan sebab ketergantungan mereka kepada
malaikat, para nabi dan para wali, padahal mereka
sekedar mengucapkan:

“Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di
sisi Allah.” (QS. Yunus:18).
Hal itu adalah merupakan sesuatu yang muhkam
(baku, terang dan mudah difahami) lagi jelas, tidak
seseorang pun kuasa untuk merubah maknanya. Dan
apa yang kamu sebutkan kepada saya wahai orang
musyrik, baik dari Al-Qur’an ataupun dari sabda Nabi
saya tidak tahu maknanya. Akan tetapi, saya yakin,
bahwa kalam Allah tidak ada yang saling bertentangan.
Dan sabda Nabi sama sekali tidak bertentangan
dengan kalam Allah. Itulah jawaban yang tepat. Akan
tetapi jawaban itu hanya akan difahami oleh orang
yang diberi taufiq oleh Allah . Maka anda jangan
menyepelekan hal itu. Sebab, sebagaimana firman
Allah Ta'ala:

“Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat:
35).
Adapun jawaban kedua yang mufashshal, ialah:
bahwasanya musuh-musuh Allah itu mempunyai
banyak dalil yang bersifat menentang untuk
menghalangi manusia dari agama Allah. Diantaranya
adalah ucapan mereka: "Kami tidak menyekutukan
Allah, bahkan kami bersaksi bahwa tiada yang
menciptakan, yang memberi rezeki, yang memberi
manfaat dan tidak ada yang memberi madharat kecuali
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kami
bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu tidak berkuasa
menarik manfa’at bagi dirinya dan tidak pula menolak
kemudharatan, apalagi syaikh Abdul Qadir atau
lainnya. Akan tetapi, saya orang yang berdosa, dan
sementara orang-orang shalih itu mempunyai jaah
(pangkat/kedudukan ) di sisi Allah. Maka saya
memohon kepada Allah dengan perantara mereka(11),
Untuk itu anda harus jawab dengan jawaban yang
sudah lewat(diatas), yaitu, bahwasanya orang-orang
yang diperangi Rasulullah mereka mengakui apa
yang kamu sebutkan itu, mereka juga mengakui,
bahwasanya berhala-berhala mereka tidak dapat
mengatur urusan apapun, hanya saja mereka ingin
dirinya kedudukan dan syafa’at (pertolongan), dan
bacakan kepadanya dalil-dalil yang sudah disebutkan
terdahulu oleh Allah dalam kitab-Nya(12) serta sudah
diperjelas oleh Nya.
( 11) Yakni dengan menjadikan orang-orang shalih itu sebagai washithah (perantara) antara
dia dengan Allah Yang Maha Dekat lagi memperkenankan do’a hamba-hamba-Nya,
hal ini yang ada pada para penyembah orang-orang mati, perbuatan itu kufur
berdasarkan kesepakatan para ulama.
( 12) Yakni ayat-ayat yang menunjukkan atas kekufuran orang-orang yang berdo’a kepada
selain Allah baik itu orang-orang mati, batu dan lain-lain dengan penyembelihanpenyembelihan
dan nadzar.
Jika dia mengatakan: "ayat-ayat itu kan turun
untuk menerangkan tentang orang-orang yang
menyembah berhala-berhala, bagaimana kalian
menyamakan orang-orang shalih itu dengan berhala?
Perkataan itu hendaklah anda jawab dengan apa
yang sudah tertera di atas. Sebab, jika dia mengakui,
bahwa orang-orang kafir itu bersaksi, bahwa seluruh
Rububiyyah itu untuk Allah semata, dan mereka tidak
menginginkan dari makhluk atau benda yang mereka
tuju dalam pemujaan mereka itu selain syafa’at, hanya
saja dia ingin sekedar membedakan antara perbuatan
mereka dan perbuatannya dengan apa yang sudah ia
tuturkan itu. Maka, katakan kepadanya bahwa
diantara orang-orang kafir itu, ada yang berdo’a
kepada orang-orang shalih dan berhala-berhala. Ada
juga yang berdo’a kepada para wali, yang mana Allah
telah katakan tentang mereka:

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri
mencari jalan kepada Rabb (Pemelihara) mereka. Siapa
diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). (QS.
Al-Isra’: 57).
Mereka berdo’a kepada Nabi “Isa bin Maryam dan
ibunya, padahal Allah sudah berfirman:

“Al-Masih (Isa) putera maryam itu hanyalah seorang
Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya
beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang sangat benar,
keduanya biasa memakan Makanan. Perhatikan
bagaimana kita menjelaskan kepada mereka (ahli kitab)
tanda-tanda kekuasaan (kami), kemudian perhatikanlah
bagaimana mereka dipalingkan (dari memperhatikan
ayat-ayat itu).” (QS.Al –Maidah: 75).
Dan bacakan kepadanya firman Allah Ta'ala:

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah
mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah
berfirman kepada malaikat: “apakah mereka ini dahulu
menyembah kamu? “Malaikat-malaikat itu menjawab:
maha suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan
mereka, bahkan mereka telah menyembah jin (syetan),
kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (QS.
Saba’: 40-41).
Dan juga firman Allah Ta'ala:

“Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan
kepada manusia: “jadikanlah aku dan ibuku dua orang
tuhan selain Allah?” menjawab (Isa):“Maha suci
Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya)”. (QS. Al-Maidah:116).
Lalu katakan padanya: "kamu kini sudah tahu,
bahwa Allah telah mengkafirkan orang yang
menujukan pemujaannya kepada berhala-berhala. Dan
Allah telah mengkafirkan orang yang menujukan
pemujaannya kepada orang-orang shalih, dan orangorang
yang semacam itu telah diperangi oleh
Rasulullah ".
Jika dia mengatakan: "Orang-orang kafirlah yang
menginginkan dari orang-orang shalih itu, sedangkan
saya bersaksi, bahwasanya Allah-lah yang memberi
manfa’at, Yang memberi madharat, yang mengatur
segala urusan. Saya tidak bermaksud kecuali Dia,
sedangkan orang-orang shalih itu tidak memiliki
kekuasaan apapun. Hanya saja saya bermaksud
kepada mereka untuk mengharap dari Allah syafa’at
mereka bagiku".
Sebagai jawaban ucapan itu adalah: "bahwasanya
ucapan seperti itu adalah sama persis dengan ucapan
orang-orang kafir. Lantas bacakan kepadanya firman
Allah Ta'ala:

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain
Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat-sekatnya.” (QS. Az Zumar: 3).
Dan firman Allah Ta'ala:

“Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di
sisi Allah.” (QS.Yunus:18).
Ketahuilah (wahai saudaraku seiman) bahwasanya
ketiga syubhat (hujjah batil yang mereka anggap benar)
itu(13) adalah syubhat yang paling besar yang ada pada
mereka, untuk itu jika anda sudah ketahui,
bahwasanya Allah sudah menjelaskan tiga hal itu di
dalam kitab-Nya, dan anda pun sudah memahaminya
dengan pemahaman yang baik, maka berbagai syubhat
selain itu akan terasa lebih mudah dibanding tiga
syubhat di atas.
Kemudian apabila dia mengatakan:
( 13) Syubhat pertama: ucapan mereka: "kami tidak menyekutukan Allah", kedua: ucapan
mereka: "bahwa ayat-ayat itu turun tentang hal orang yang menyembah berhala," dan
syubhat yang ketiga: Ucapan mereka: "orang-orang kafir itulah yang menginginkan
dari mereka ( orang-orang yang shaleh)…. Dst ( lihat diatas).
"Saya tidak menyembah kecuali kepada Allah,
sedangkan berlindung kepada orang-orang shalih dan
berdo’a kepada mereka semacam ini bukanlah ibadah".
Maka, katakan kepadanya: "bukankah kamu
mengakui, bahwasanya Allah telah mewajibkan
kepadamu pemurnian ibadah hanya untuk-Nya, dan
itu merupakan hak Dia atas kamu? Jika dia
menjawab: ya, maka katakan padanya: "Coba
terangkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan
kepadamu, yaitu: keikhlasan, kemurnian beribadah
hanya untuk Allah semata, dan itu merupakan hak
Allah atas kamu."
Sesungguhnya dia tidak akan tahu apa itu ibadah
dan apa macam-macamnya (14). Untuk itu terangkanlah
hal itu kepadanya dengan ucapan anda: Allah telah
befirman:

“Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri
dan suara yang lembut.” (QS.Al A’raaf: 55).
Lalu jika anda sudah memberi tahukan hal itu
kepadanya, maka katakan kepadanya: "apakah kamu
tahu, bahwa berdo’a itu merupakan ibadah kepada
Allah?
Maka, pasti dia akan mengatakan: ya, do’a itu
puncak ibadah. Lantas katakan kepadanya: "kalau
( 14) Karena sesungguhnya dia berdalih bahwa berlindung kepada orang-orang yang shalih
dan berdo’a kepada mereka bukanlah ibadah. Dan hal inilah yang ada pada para
penyembah orang-orang mati. Mereka menamakan ibadah semacam ini sebagai
tawassul dan mempraktekkannya kepada selain Allah.
kamu sudah mengakui, bahwa do’a itu adalah ibadah
kepada Allah, dan kamu sendiri sudah berdo’a kepada
Allah sepanjang malam dan siang hari dengan rasa
takut dan harap, kemudian kamu berdo’a untuk
keperluan tertentu kepada seorang Nabi atau yang
lainnya; apakah bukan berarti kamu telah menjadikan
selain Allah sebagai sekutu Allah dalam beribadah
kepada-Nya?
Maka, pasti dia akan menjawab: ya.
Lalu katakan kepadanya lagi: "Apabila kamu sudah
mengamalkan firman Allah, di saat Dia berfirman:

“Maka dirikanlah shalat untuk Rabbmu, dan
sembelihlah kurban.” (QS. Al Kautsar: 2).
Dan kamu sudah taat kepada Allah serta sudah
pula menyembelih kurban untuk Dia; apakah hal ini
(bukan) merupakan ibadah?
Pasti ia akan menjawab: ya.
Lantas katakan kepadanya: "jika kamu
menyembelih kurban demi untuk seseorang makhluk,
baik itu seorang nabi atau jin ataupun yang lainnya,
bukankah kamu sudah menjadikan selain Allah sekutu
bagi-Nya dalam beribadah kepada-Nya?.
Dia pasti akan mengakui dan mengatakan: ya. Dan
katakan kepadanya lagi: "orang-orang musyrik -yang
mana Al-Qur’an telah turun menjelaskan tentang
keadaan mereka-, apakah mereka dulu senantiasa
menyembah malaikat, Orang-orang shalih, Al- Latta
dan yang lainya?
Sudah pasti dia akan mengatakan: ya.
Maka katakan kepadanya: "bukankah ibadah
mereka kepada malaikat, orang-orang shalih dan yang
lain-lain itu hanya dalam bentuk do’a, penyembelihan
kurban, berlindung kepada mereka di saat ada
kebutuhan dan yang semacamnya? Jika tidak seperti
itu lalu apa? Mereka mengakui, bahwasanya mereka
adalah hamba-hamba Allah dan di bawah
kekuasaannya, dan bahwasanya Allah lah yang
mengatur segala urusan, namun mereka berdo’a
kepada malaikat, orang-orang shalih dan berlindung
kepada mereka karena mereka yakin bahwa yang
mereka puja itu memiliki jaah (kedudukan tinggi) dan
syafa’at, hal ini jelas sekali.
Kalau dia mengatakan: "Apakah engkau
mengingkari syafa’at Rasulullah dan berlepas diri
dari padanya?
Maka jawablah: "Saya sama sekali tidak
mengingkari syafa’at itu, juga tidak berlepas diri
darinya, bahkan saya meyakini, bahwa beliau adalah
Asysyaafi’ (yang memberi syafa’at) dan Musyaffa’
(mendapatkan hak memberi syafa’at dari Allah) dan
saya benar-benar mengharap syafa’at beliau itu, akan
tetapi, bagaimanapun juga semua syafa’at itu
kepunyaan Allah semata, sebagaimana yang
difirmanka-Nya:

Katakanlah:“Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu
semua.” (QS. Az Zumar: 44).
Dan tidak akan ada syafa’at itu kecuali sesudah
mendapatkan izin dari Allah. Allah berfirman:

“Siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah
tanpa izin-Nya?” (QS. Al Baqarah: 255).
Dan Nabi tidak akan dapat memberi syafa’at
terhadap seseorang kecuali sesudah Allah mengizinkan
untuk memberi syafa’at kepada orang itu, sebagaimana
Allah telah berfirman:

“Dan mereka tidak memberi syafa’at melainkan
kepada orang yang diridhai Allah.” (QSAl-Anbiyaa’:28).
Sedangkan Allah sendiri hanya ridha kepada
tauhid.” Seperti yang difirmankan-Nya:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam,
maka sekali-sekali tidaklah akan diterima (agama itu)
dari padanya.” (QS. Ali ‘Imran: 85).
Jadi, jika syafa’at itu semuanya kepunyaan Allah
dan tidak akan ada kecuali sesudah mendapatkan izin
Allah, sedang Nabi sendiri dan yang lainnya tidak
dapat memberi syafa’at terhadap seseorang sebelum
Allah mengizinkannya untuk memberi syafa’at kepada
seseorang itu, serta syafa’at itu hanya diizinkan untuk
ahli tauhid, maka dari sini menjadi jelas dan teranglah
bagi anda, bahwasanya syafa’at itu semuanya
kepunyaan Allah, dan saya akan memohon syafa’at itu
dari Dia. Untuk itu saya berdo’a: “Ya Allah, janganlah
engkau jadikan aku orang yang tak mendapatkan
bagian dari syafa’at Nabi , Ya Allah, berilah beliau
hak memberi syafa’at untukku,” dan do’a-do’a yang
sejenisnya".
Apabila dia mengatakan: "Nabi telah diberi hak
memberi syafa’at, lalu saya memohon kepada beliau
sebagian apa yang telah Allah berikan kepada beliau.
Maka jawabannya sebagai berikut: "Sesungguhnya
Allah telah memberi beliau hak memberi syafa’at,
tetapi Dia melarang kamu berdo’a memohon kepada
Nabi . Untuk itu Allah berfirman:

“Maka janganlah kamu berdo’a kepada seseorang
disamping (berdoa kepada) Allah.” (QS. Al Jin:18).
Dan juga, bahwasanya syafa’at itu juga diberikan
kepada selain Nabi , maka benar, bahwasanya para
malaikat akan memberi syafa’at. Begitu juga para wali
itu akan memberi syafa’at. Lalu, apakah kamu
mengatakan: "sesungguhnya Allah telah memberi
kepada mereka (yang disebut di atas) itu hak memberi
syafa’at, dan saya memohon syafa’at itu dari mereka,
jika kamu memang mengatakan (mengakui) begitu,
maka berarti kamu telah kembali kepada
penyembahan kepada orang shalih yang sudah
nyatakan Allah dalam kitab-Nya, akan tetapi jika kamu
mengatakan: Tidak, (tidak mengatakan seperti ucapan
di atas), maka menjadi batal-lah ucapanmu terdahulu:
“Allah telah memberi kepada beliau Nabi hak
memberi syafa’at, lalu saya memohon kepada beliau
sebagian apa yang sudah Allah berikan padanya.”
Lalu, kalau dia mengatakan sama sekali tidak
mempersekutukan sesuatupun dengan Allah. Dan
sekali-kali tidak, akan tetapi, berlindung (iltija’) kepada
orang-orang shalih bukanlah perbuatan syirik.
Maka katakan kepada dia," jika kamu sudah
mengakui, bahwasanya Allah telah mengharamkan
syirik, itu melebihi dari pada mengharamkan zina, dan
kamu mengakui pula, bahwasanya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, maka masalah apa yang
diharamkan Allah dan Dia sebut bahwasanya Dia tidak
akan mengampuninya itu? pasti dia tidak akan tahu.
Maka, katakan lagi kepadanya: "lantas bagaimana
kamu membebaskan dirimu dari melakukan syirik,
sementara kamu sendiri tidak mengetahui syirik itu.
Atau bagaimana Allah mengharamkan syirik itu atas
kamu dan Dia menyebut bahwasanya Dia tidak akan
mengampuni dosa syirik itu, sementara kamu tidak
menanyakan apa itu syirik dan tidak mengetahuinya.
Apakah kamu mengira, bahwa Allah mengharamkan
syirik, tapi tidak menerangkannya kepada kita?
Apabila dia mengatakan," syirik itu menyembah
berhala-berhala".
Maka jawablah: "Apa makna menyembah berhalaberhala
itu? apakah kamu mengira, bahwasanya
orang-orang musyrik itu beri’tikad/ berkeyakinan,
bahwa kayu-kayu yang mereka sembah dan pohonpohon
itu yang menciptakan, dan yang memberi rezeki
dan yang mengatur urusan orang yang berdo’a
kepadanya? pendapatmu itu tidak dibenarkan oleh Al-
Qur’an, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah
Ta'ala :

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki
kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang
hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?”
Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Yunus :31).
Jika dia mengatakan: "orang-orang yang
menujukan pemujaan kepada kayu atau suatu batu
atau bangunan diatas sebuah kuburan atau yang
lainnya seraya berdo’a kepada benda-benda itu dan
menyembelih kurban demi untuknya: Bahwasanya
benda-benda itu dapat mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat-dekatnya dan dapat menolak
bala’ dari kami dengan barokahnya."
Maka katakan, "Anda telah jujur menjawab, dan
hal itulah yang kamu kerjakan di sisi batu-batu,
bangunan-bangunan yang ada di atas kuburan dan
yang lainnya". Sipenentang itu mengakui bahwa
perbuatan orang-orang semacam itu, sama saja
dengan menyembah berhala.
Perlu juga dikatakan kepadanya lagi: ucapanmu
“syirik itu menyembah kepada berhala, “Apakah yang
kamu maksud, bahwa syirik itu khusus kepada
penyembahan berhala saja, sedangkan bergantung
kepada orang-orang shalih serta berdo’a kepada
mereka tidak termasuk syirik? Padahal hal ini
dibantah oleh ayat yang disebutkan Allah dalam
kitabnya tentang kekufuran orang yang selalu
bergantung kepada para malaikat, Nabi ‘Isa dan orang orang
shalih. Maka wajib kamu akui, bahwasanya
orang yang mempersekutukan seseorang dari orang orang
shalih dalam beribadah kepada Allah, bentuk
syirik yang semacam itu adalah bentuk syirik yang
tercantum dalam Al-Qur’an. dan memang inilah
kesimpulan pembahasan yang dicari.
Rahasia masalah ini adalah jika dia mengatakan:
"saya tidak syirik (mempersekutukan) Allah".
Maka tanyakan kepadanya: "apakah sebenarnya
arti syirik kepada Allah itu, coba jelaskan arti syirik itu
kepadaku?
Jika dia mengatakan, "syirik itu adalah menyembah
berhala-berhala.
Maka katakan: "lalu apa makna menyembah
berhala itu, coba jelaskan kepadaku? (15)
Jika dia mengatakan: "saya hanya menyembah
Allah semata".
( 15) Makna menyembah berhala adalah menjadikan berhala-berhala sebagai wasithah
(perantara), yaitu bahwa penyembah berhala itu berupaya mendekatkan diri
kepadanya dengan sesuatu yang dianggapnya dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Seperti; dengan melakukan penyembelihan qurban untuk berhala-berhala itu,
bernadzar dan berdo’a kepadanya, seperti yang dilakukan orang-orang musyrik yang
menyembah orang-orang mati.

Maka katakan: "apakah makna menyembah Allah
semata itu? Coba jelaskan kepadaku!
Jika dia menjelaskan kalimat itu dengan apa yang
sudah dijelaskan Al-Qur’an, maka jawaban itulah yang
diharapkan (16).
Akan tetapi dia tidak mengetahui hal itu. Dan jika
dia menafsirkan hal itu tidak sesuai dengan makna
sebenarnya, maka hendaknya anda jelaskan
kepadanya ayat-ayat yang menjelaskan tentang syirik
kepada Allah dan makna menyembah berhala-berhala.
Atau jelaskan kepadanya bahwa hal itulah yang
dilakukan oleh sebagian orang pada zaman ini. Dan
jelaskan pula, bahwa menyembah Allah semata, tiada
sekutu bagi-Nya, itulah yang membuat mereka
menentang kami dan berteriak sebagaimana kawankawan
mereka (para jahiliyyah) telah berteriak, sambil
mengatakan:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu hanya
yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu
hal yang sangat mengherankan". (QS. Shaad: 5).
Apabila anda sudah tahu bahwa hal(17) yang
dinamakan oleh orang-orang musyrik pada zaman ini
( 16) Sungguh Allah telah menerangkan arti ibadah -yang hamba-hamba-Nya telah
diperintahkan untuk melaksanakan ibadah itu dalam kitab-Nya-, Firman Allah:
"Mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan (keikhlasan) kepada-Nya dalam menjalankan agama". (QS. Al Bayyinah: 5)
dan ayat-ayat lain yang menunjukkan hal itu.
dengan “Al I’tiqaad,”adalah merupakan “syirik” yang
dimaksud dalam Al-Qur’an dan Rasulullah
memerangi manusia lantaran syirik itu, maka
ketahuilah, bahwasanya bentuk syirik orang-orang
dahulu itu lebih ringan dari bentuk syirik orang-orang
zaman ini, hal ini karena dua hal :
Yang pertama:
Bahwasanya orang-orang dahulu tidak melakukan
kesyirikan, tidak menyembah dan berdo’a kepada
malaikat, para wali dan berhala-berhala disamping
menyembah dan berdoa kepada Allah kecuali dalam
keadaan senang.
Sedangkan di waktu susah mereka mentuluskan
ibadah dan do’a mereka kepada Allah. Seperti firman
Allah:


( 17) Telah terdahulu ucapan Syaikh (penulis) Rahimahullah dan anda sudah tahu,
bahwasanya tauhid yang mereka ingkari adalah Tauhid Ibadah yang oleh orang-orang
musyrik pada zaman kita dinamakan al-i'tiqad, yang dimaksud penulis adalah
bahwasanya orang-orang musyrik itu berupaya mendekatkan diri kepada Allah
dengan berdo’a kepada berhala-berhala, arca-arca, malaikat-malaikat dan orang-orang
shalih, mereka melakukan untuk berhala itu segala bentuk ibadah, mulai dari
penyembelihan kurban, nadzar, istighatsah (minta pertolongan) dan bentuk ibadah
yang lain, mereka berkeyakinan bahwa semua itu adalah merupakan pendekatan
kepada Allah yang dengan perbuatan itu mereka akan mendapatkan kedudukan yang
terdekat di sisi Allah. Maka karena itulah mereka menjadi orang-orang musyrik, dan
mereka menamakan kesyirikan mereka sebagai I'tiqad terhadap para wali dan orangorang
yang shalih dan hal ini syirik akbar bertentengan dengan Agama Allah Ta’ala.
"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan,
niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia.
Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan,
kamu berpaling. Dan adalah manusia itu selalu tidak
berterima kasih". (QS. Al Israa’ :67).
Dan firman Allah:

Katakanlah: “Bagimana pendapat kalian jika datang
siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari
kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika
kamu orang-orang yang benar”. (Tidak ) bahkan hanya
Dialah yang kalian seru, maka Dia menghilangkan
bahaya yang kamu berdo’a kepadanya, jika Dia
menghendaki, dan kamu tinggalkan sesembahansesembahan
yang kamu sekutukan (dengan Allah)".
(QS. Al An’am:40-41).
Dan Allah berfirman:

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia
memohon pertolongan kepada tuhannya dengan
kembali kepada-Nya; kemudian apabila Dia
memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan
kemudharatan yang pernah dia berdo’a (kepada Allah)
untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia
mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk
menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:
“bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu
sementara waktu, sesungguhnya kamu termasuk
penghuni neraka.” (QS. Az Zumar: 8).
Dan firman Allah Ta'ala:

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar
seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan
memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama. ( QS. Luqman: 32).
Maka, barang siapa yang faham masalah yang
sudah dijelaskan oleh Allah dalam kitab-Nya ini, yaitu:
bahwasanya orang-orang musyrik yang diperangi
Rasulullah itu mereka berdo’a (menyeru kepada)
Allah dan berdo’a pula kepada selain Allah dalam
keadaan senang, sedangkan di waktu ditimpa bahaya
dan susah, mereka hanya berdo’a kepada Allah
semata, tiada sekutu baginya, dan mereka tinggalkan
para penghuni kubur yang selalu mereka seru “ya
sayyidi, ya sayyidi, dengan demikian semakin teranglah
baginya perbedaan antara bentuk syirik orang-orang
zaman kita dan bentuk syirik orang-orang dahulu.

Namun mana orang yang hatinya faham masalah
ini dengan pemahaman yang dalam? Hanya Allahlah
tempat memohon pertolongan (18) (untuk menuju
ibadah yang sebenarnya kepada-Nya).
Yang kedua:
Bahwasanya orang-orang dahulu itu, disamping
menyembah Allah, mereka berdo’a kepada orang yang
sangat dekat disisi Allah, baik itu para nabi atau para
wali ataupun malaikat. Dan juga mereka menyembah
(berdo’a) kepada pepohonan dan batu-batu yang semua
itu tunduk dan taat kepada Allah, tidak maksiat
kepada-Nya. Sedangkan orang-orang zaman kita,
disamping menyembah Allah mereka berdo’a kepada
orang-orang yang tergolong manusia paling fasiq, dan
orang-orang yang mereka seru itu justru orang-orang
yang mereka sebut-sebut sendiri banyak melakukan
kejelekan –kejelekan; mulai dari berzina, mencuri,
meninggalkan shalat dan lain-lain(19).
Orang yang beri’tiqad terhadap orang shalih dan
sesuatu yang tidak maksiat kepada Allah seperti kayu
dan pohon, tentunya lebih ringan dari pada orang yang
beri'tiqad terhadap orang yang ia sendiri melihat
kefasikan dan kerusakannya, dan ia menyaksikan
dengan jelas.
( 18) Saya katakan: "sesungguhnya termasuk ni’mat Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah
bahwa tauhid yang shahih yang dibangun atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah benarbenar
telah tersebar pada zaman ini, banyak pengikutnya dan banyak pula para da’I
yang menyeru kepada tauhid itu. Hal ini merupakan rahmat dari Allah untuk hambahamba-
Nya, kemudian disebabkan pula oleh tersebar-luasnya kitab-kitab tauhid
karangan –karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah misalnya dan muridnya Ibnu Al-
Qayyim Syaikhul Islam Muhammad ibnu Abdul Al-Wahhab, pengarang kitab ini,
semoga Allah membalas amal mereka dengan kebaikan.
( 19) Bahkan sampai mereka menceritakan kejelekan-kejelekan itu dan menganggapnya
termasuk karamah-karamah seperti dipaparkan oleh Asya’rani dalam buku-bukunya.

Apabila sudah jelas bagi anda, bahwasanya orangorang
yang pernah diperangi Rasulullah adalah
orang-orang yang paling ringan kesyirikannya dari
orang-orang musyrik sekarang, maka hendaklah anda
tahu, sesungguhnya mereka mempunyai syubhat yang
mereka kemukakan sebagai jawaban terhadap apa
yang sudah kami sebutkan, dan syubhat ini adalah
syubhat yang terbesar. Makanya pusat pendengaran
anda baik-baik terhadap jawaban dari syubhat itu.
Syubhat itu adalah, bahwasanya mereka
mengatakan: "sesungguhnya orang-orang yang Al-
Qur’an telah turun tentang keadaan mereka, tidak
pernah bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah
dan mereka mendustakan Rasulullah , mengingkari
hari kebangkitan, mendustakan Al-Qur’an dan
menganggapnya sebagai sihir, sedangkan kami
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq disembah
selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah
utusan Allah. Kami membenarkan Al Qur’an, beriman
dengan adanya hari kebangkitan, melaksanakan shalat
dan kami pun melaksanakan puasa, bagaimana kalian
menyamakan kami seperti orang-orang musyrik dulu?
Sebagai jawaban atas syubhat ini adalah,
bahwasanya tidak ada perbedaaan pendapat antara
para ulama’, bahwa seseorang jika membenarkan
Rasulullah dalam satu hal, dan mendustakan beliau
dalam hal yang lain, hukumnya adalah kafir, tidak
masuk dalam Agama Islam, begitu pula, jika seseorang
beriman dengan sebagian isi Al-Qur’an, tetapi
mengingkari sebagian yang lain seperti misalnya:
seorang mengakui tauhid, tetapi mengingkari
kewajiban shalat, atau mengakui tauhid dan mengakui
shalat, tetapi mengingkari zakat, ataupun dia
mengakui semua itu (tauhid, shalat dan zakat) tetapi
mengingkari puasa, atau dia mengakui semua itu,
tetapi ia mengingkari haji, maka orang yang semacam
itu hukumnya kafir. Dan ketika beberapa orang tidak
menunaikan ibadah haji pada zaman Nabi maka
Allah langsung menurunkan wahyu tentang orangorang
itu:


"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke baitullah, barang siapa
mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).
Dan barang siapa yang mengakui semua yang
tersebut di atas itu, tetapi mengingkari hari
kebangkitan, maka hukumnya kafir menurut ijma’
(kesepakatan para ulama’) dan darah serta harta
bendanya menjadi halal. Sebagaimna firman Allah :

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah
dan rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan
antara Allah dan Rasul-rasul-Nya (beriman kepada
Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya), dengan
mengatakan: “kami beriman kepada sebahagian (dari
rasu-rasul itu), dan kafir terhadap sebahagian (yang
lain), “serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mangambil jalan antara yang demikian (iman atau
kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu
siksaan yang menghinakan. (QS. An Nisa’:150-151).
Maka, Jika Allah sudah menjelaskan dengan
sejelas-jelasnya dalam kitab-Nya, bahwasanya barang
siapa beriman kepada sebahagian dari rasul-rasul-Nya
dan kafir terhadap sebahagian yang lain, hukumnya
adalah kafir yang sebenar-benarnya; dengan demikian
hilanglah syubhat tersebut. Dan hal ini yang
dituturkan oleh sebagian penduduk Ahsaa’ (nama
suatu daerah di wilayah timur saudi arabia, pent)
dalam surat yang telah dikirimkan kepada kami(20).
Dikatakan: "apabila kamu sudah mengakui
bahwasanya barang siapa yang sudah membenarkan
Rasulullah dalam segala urusan, tetapi mengingkari
( 20) Dahulu daerah Ahsa’ pada zaman syaikh, terdapat banyak Ulama-ulama’ dari
berbagai madzhab, sebagian dari ulama itu keras kepala menentang dan sebagian yang
lain diberi hidayah oleh Allah, lalu mengikuti kebenaran dan petunjuk karena taufiq
Allah.
kewajiban shalat maka dia dihukumi kafir, halal
darahnya menurut ijma’ (kesepakatan ulama’).
Demikian juga, jika dia mengakui semua hal itu
kecuali hari kebangkitan, ia mengingkarinya, maka ia
dihukum kafir, halal darah dan hartanya. Begitu pula,
jika dia mengingkari puasa ramadhan tetapi tidak
mengingkari hari kebangkitan maka hukumnya pun
kafir. Semua madzhab tidak berselisih dalam hal ini,
dan Al-Qur’an pun telah menjelaskan tentang hal itu
seperti yang telah kami kemukakan di atas. Maka dari
sini, jelaslah bahwasanya “tauhid” itu termasuk fardhu
(kewajiban) yang terbesar yang dibawa oleh Nabi .
Tauhid lebih besar dari ibadah shalat, zakat, puasa
dan haji, jika seseorang mengingkari Satu hal dari halhal
itu dihukumi kafir, meskipun dia sudah
mengamalkan semua syari’at Rasulullah , tepatkah
orang yang mengingkari tauhid -yang mana tauhid itu
merupakan agama seluruh rasul-rasul- tidak dihukumi
kafir? Subhanallah (Maha Suci Allah) Alangkah
anehnya kebodohan yang semacam ini (21).
Dikatakan pula: "mereka para sahabat Rasulullah
telah memerangi bani Hanifah padahal mereka
benar-benar sudah masuk Islam bersama Nabi
mereka bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah
( 21) Saya katakan: jika sebab sesuatu itu tampak maka hilanglah keanehan itu. Orangorang
musyrik, penyembah orang-orang mati itu telah beri'tiqad, bahwa mengalihkan
puncak ibadah (do’a) kepada selain Allah itu bukanlah syirik, akan tetapi menurut
mereka syirik adalah bersujud kepada berhala-berhala. Sedangkan berdo’a,
menyembelih kurban, nadzar dan mohon pertolongan kepada selain Allah adalah
termasuk hal-hal yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah . Hal ini sudah mereka
kemukakan dengan terang-terangan dalam kitab-kitab mereka, meskipun begitu,
mereka sungguh telah bersujud kepada selain Allah. Ini dapat diketahui oleh orang
yang sudah mempelajari keadaan-keadaan mereka dan menyaksikan kekufuran mereka
di sisi kuburan-kuburan, berhala-berhala mereka.
dan bahwasanya Nabi muhammad adalah utusan
Allah. Dan mereka juga mengerjakan shalat dan azdan.
Maka jika dia mengatakan: "sesungguhnya mereka
berkata bahwasanya Musailamah (Al-Kadzadzab)
adalah seorang nabi, kami katakan: inilah jawaban
yang dicari, yakni jika ada orang yang mengangkat
seorang lelaki sederajat dengan Nabi dihukum kafir,
halal harta dan darahnya, dan dua ucapan syahadat
dan shalat tidak bermanfaat baginya, bagaimana
dengan orang yang mengangkat Syamsan atau Yusuf
atau seorang sahabat ataupun seorang Nabi ke derajat
yang Maha Menguasai langit dan bumi? Maha suci
Allah, betapa agung urusan-Nya.

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang
yang tidak (mau) memahami". (QS. Ar Ruum: 59).
Dikatakan pula: "orang-orang yang dibakar oleh ‘Ali
Bin Abi Thalib dengan api, mereka semua mengaku
dirinya Islam, dan mereka sahabat-sahabat Ali serta
belajar ilmu dari para sahabat, akan tetapi mereka
beri’tiqad terhadap Ali, seperti I'tiqad orang terhadap
Yusuf dan Syamsan dan orang yang semisal keduanya,
maka, bagaimana bisa para sahabat itu sepakat untuk
membunuh dan mengkafirkan mereka?
Apakah kalian menyangka, bahwasanya para
sahabat itu mengkafirkan orang-orang muslim? Atau
kalian menyangka bahwa beri’tiqad terhadap suatu
taaj (mahkota) dan sejenisnya tidak mengganggu iman
sedang beri’tiqad terhadap Ali bin Ali Thalib menjadi
kafir?
Dikatakan juga: Bani ‘Ubaid Al-Qaddah yang
menguasai negeri Maghrib dan Mesir pada zaman bani
Al-Abbaas, mereka semua bersaksi, bahwa tiada tuhan
selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad
adalah utusan Allah. Mereka pun mengaku menganut
Islam dan melaksanakan shalat Jum’at dan shalat
berjamaah, akan tetapi tatkala mereka
memperlihatkan perlawanan terhadap syariah dalam
beberapa hal yang tidak sebesar apa yang mereka
tentang pada zaman kita ini, para ulama’ pun sepakat
untuk mengkafirkan mereka. Dan difatwakan bahwa
negeri mereka adalah negeri “Dar Harb” yang harus di
pererangi. Lalu, kaum muslimin memerangi mereka
sampai kaum muslimin dapat membebaskan negeri
orang-orang Islam yang berada dalam cengkraman
mereka.
Dikatakan juga: "jika orang-orang dulu tidak kafir
melainkan lantaran mereka hanya memadukan antara
syirik dan mendustakan Rasulullah dan Al-Qur’an
serta mengingkari hari kebangkitan dan yang lainnya.
Maka apalah artinya bab yang di sebut oleh Para
ulama’ seluruh madzhab: “bab hukum orang murtad”.
Yaitu yang tak lain adalah orang muslim yang menjadi
kafir sesudah dirinya Islam. Kemudian para ulama’
menyebutkan beberapa macam murtad. Setiap macam
dari macam-macam murtad itu dihukumi kafir dan
dijadikan darah dan harta bendanya itu halal. Sampaisampai
para ulama’ itu menyebutkan hal-hal yang
gampang terjadi dan dilakukan orang. Seperti;
seseorang yang menyebut sesuatu kalimat dengan
lisannya, tanpa ada keyakinan dalam hatinya ataupun
menyebut suatu kalimat dengan bercanda dan mainmain.
Dan dikatakan pula: orang-orang yang Allah
katakan tentang mereka:

"Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah
dengan nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakan
(sesuatu yang menyakitimu), Sesungguhnya mereka
telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah
menjadi kafir sesudah islam". ( QS. At Taubah: 74).
Apakah kamu tidak mendengar, bahwasanya Allah
telah mengkafirkan mereka hanya karena mereka
mengucapkan satu kalimat? padahal semasa
Rasulullah mereka berjihad bersama beliau .
Mengerjakan shalat bersama beliau, berzakat,
menunaikan ibadah haji dan mentauhidkan Allah.
Demikian pula, orang-orang yang Allah katakan
tentang mereka:

"Katakanlah: “Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya
dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah
kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman".
(QS. At-Taubah: 65-66).

Allah telah menerangkan dan menjelaskan
dengan sejelas-jelasnya, bahwasanya mereka itu kafir
sesudah beriman, padahal mereka ikut bersama
rasulullah dalam perang Tabuk, mereka telah
mengucapkan satu kalimat kekafiran, meski mereka
katakan bahwa mereka mengucapkan kalimat itu atas
dasar gurau belaka.
Oleh karenanya renungkan syubhat berikut ini,
yaitu ucapan mereka: "mengapa kalian mengkafirkan
orang-orang Islam yang mereka bersaksi, bahwa tidak
ada tuhan selain Allah, mereka mengerjakan shalat
dan puasa? Kemudian renungkan jawaban syubhat
itu, karena jawaban ini adalah termasuk paling
bermanfaat diantara isi lebar-lembaran ini (22).
Dan termasuk dalil atas hal itu juga adalah apa
yang sudah Allah ceritakan tentang bani Israil dengan
keislaman, keilmuan dan keshalehan mereka, masih
saja mereka mengatakan kepada nabi musa :

“Buatlah untuk kami suatu tuhan (berhala)
sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan
(berhala).” (QS.Al A’raaf:138).
( 22) Itu karena, sesungguhnya syubhat mereka ini adalah yang paling sangat mengelabui
dalam menyusupkan kebatilan. Sebab orang yang telah bersaksi, bahwa tidak ada Ilah
selain Allah, mengerjakan shalat dan puasa, jika dituding bahwa ia kafir, hal itu adalah
suatu keganjilan yang besar. Padahal dia tidak mengerti, bahwa dia telah
menghancurkan amalan-amalan kebaikannya sendiri dengan sebab kesyirikan dan
do’anya kepada selain Allah, Jadi tidaklah bermanfaat ibadahnya itu bagi dirinya,
karena sesungguhnya barang siapa yang tidak berpegang teguh kepada tauhid maka ia
belum menyembah Allah dengan sebenarnya, untuk itu, jawaban ini termasuk jawaban
yang paling bermanfa’at.
Dan ucapan beberapa sahabat:

"Buatlah untuk kami dzaatu anwaath (nama sebuah
Pohon).”
Mendengar ucapan itu Rasulullah lalu
bersumpah, bahwasanya ucapan itu serupa dengan
ucapan bani Israil “buatlah untuk kami sebuah tuhan
(berhala).”
Tetapi, orang-orang musyrik mempunyai syubhat,
yang mereka pakai sebagai hujjah dalam kisah bani
Israil itu. Syubhat itu adalah mereka mengatakan,
bahwa bani israil itu tidak kafir, begitu pula beberapa
sahabat yang telah mengatakan: “Buatlah untuk kami
pohon Dzaatu Anwaath,” mereka pun tidak kafir.
Sebagai jawabannya, hendaklah anda katakan:
"sesungguhnya bani Israil tidak melakukan itu,
demikian pula orang-orang yang telah memohon
kepada Nabi tidak juga melakukan itu. Tetapi jika
melakukan itu yakni membuat tuhan berhala, jelas
mereka akan kafir. Seperti juga tidak ada perbedaan
pendapat antara ulama’ bahwa orang-orang yang
dilarang Rasulullah itu andaikan tidak mentaati
beliau dan mengambil Dzaatu anwaath itu sesudah
mereka dilarang, niscaya mereka pun menjadi kafir.
Dengan demikian terjawablah.
Akan tetapi, kisah ini memberi pelajaran,
bahwasanya seorang muslim, bahkan seorang ‘alim,
terkadang dapat terperosok ke dalam macam syirik
tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian kisah ini
pun memberi pelajaran kepada kita agar belajar dan
berhati-hati serta mengerti bahwa ucapan seorang
bodoh, “kami sudah faham tauhid itu, “adalah
kebodohan yang terbesar dan termasuk makar (tipu
daya) syetan yang terbesar, kisah ini juga memberi
pelajaran, bahwa seorang muslim jika mengucapkan
perkataan kufur dan dia tidak tahu, lalu diingatkan
atas perbuatannya itu, kemudian seketika itu juga
bertaubat dari ucapan itu, maka ia tidak kafir,
sebagaimana yang sudah dilakukan kaum bani Israil
dan sahabat yang meminta kepada nabi dalam kisah
diatas, dan kisah itu juga memberi pelajaran,
bahwasanya jika dia tidak kafir maka dia harus ditegur
dengan perkataan yang keras kepadanya, seperti yang
dilakukan oleh Rasulullah , kepada orang-orang lain
dari sahabat itu.
Orang-orang musyrik mempunyai syubhat lain,
mereka mengatakan bahwa nabi telah menyalahkan
pembunuhan Usamah radhiyallahu ‘anhuma terhadap
orang yang sudah mengatakan: )

dan beliau bersabda kepadanya:

Mengapa engkau bunuh setelah ia mengucapkan:
Laailaaha illallah?
Begitu juga sabda beliau :

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia
sehingga mereka mengucapkan: )
Dan hadits-hadits lain tentang menahan diri dari
orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid.
Yang diinginkan orang-orang bodoh itu adalah,
bahwasanya barang siapa yang sudah mengucapkan
kalimat itu, maka tidak dikafirkan dan tidak dibunuh,
meski ia telah berbuat apa saja, maka, harus
dikatakan kepada orang-orang bodoh itu, "sudah
maklum, bahwasanya Rasulullah telah memerangi
orang-orang Yahudi dan menawan mereka padahal
mereka mengatakan: )
Seperti juga sudah maklum, bahwa sahabatsahabat
Rasulullah telah memerangi Bani Hanifah,
padahal mereka bersaksi, bahwasanya tidak ada Ilah
(sesembahan) selain Allah dan sesungguhnya Nabi
Muhammad itu adalah utusan Allah, mereka juga
mengerjakan shalat dan mengaku dirinya Islam.
Demikian pula halnya orang-orang yang dibakar oleh
‘Ali bin Abi Thalib dengan api, dan orang-orang bodoh
itu mengakui, bahwa barang siapa yang mengingkari
hari pembalasan, maka ia dihukum kafir dan boleh
dibunuh, meskipun telah mengucapkan: )dan
barang siapa mengingkari sesuatu dari rukun-rukun
Islam, ia juga kafir dan boleh dibunuh meskipun telah
mengucapkan kalimat tauhid itu. Lalu, kalau orang
yang mengingkari satu cabang agama, pengakuan
Islamnya batal dan tak berguna, adakah berguna
pengakuan keislaman orang yang mengingkari tauhid
yang merupakan asas dan dasar agama para Rasul?
Namun, memang musuh-musuh Allah tidak faham
makna hadits-hadits itu.

Adapun hadits Usamah adalah bahwasanya ia telah
membunuh seorang lelaki yang sudah mengaku
dirinya Islam disebabkan karena Usamah menyangka,
bahwa lelaki itu tidak mengaku Islam kecuali karena
rasa takut atas darah dan hartanya. Jadi, jika seorang
telah memperlihatkan keislamannya, maka wajib bagi
muslim menahan diri, dan tidak tergesa-gesa
membunuhnya sehingga diketahui dengan teliti pada
dirinya apa-apa yang bertentangan dengan
keislamannya itu. Tentang hal itu, Allah Telah
menurunkan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi
(berperang) di jalan Allah, maka betabayunlah
(telitilah).” ( QS. An Nisaa’: 94).
Tabayyun yakni tatsabbut, berhati-hati dalam
bertindak, tidak ceroboh, ayat tersebut menunjukkan
kewajiban menahan diri dan bertasabbut. Lantas, jika
sudah terang (setelah diteliti) ada sesuatu yang
berlawanan dengan Islam, maka boleh dibunuh,
berdasarkan firman Allah -maka telitilah- kalau
seandainya tidak boleh dibunuh jika ia mengucapkan
kalimat tauhid, padahal telah terbukti, setelah diteliti
bahwa ia menentang Islam, maka perintah “tatsabbut”
tidak akan mempunyai arti. Demikian pula hadits lain
yang sejenisnya, maknanya adalah seperti yang sudah
kami sebutkan, dan bahwasanya barang siapa yang
telah menampakkan ketauhidan dan keislaman, maka
wajib orang muslim menahan diri darinya, kecuali jika
sudah terang darinya sesudah diteliti, hal-hal yang
membatalkan ketauhidan dan keislamannya itu.
Sebagai dalil atas hal itu adalah bahwasanya
Rasulullah bersabda:

“Mengapa kamu bunuh dia sesudah mengatakan laa
ilaaha illallah".
Dan beliau juga yang bersabda:

“Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga
mereka mengatakan laa ilaaha illallah.”
Beliau pula yang bersabda tentang kaum
khawarij:

“Dimana saja kamu sekalian bertemu mereka, maka
bunuhlah. Sungguh, jika aku mendapatkan mereka
(khawarij) niscaya pasti akan aku bunuh mereka
(seperti) terbunuhnya kaum ‘Aad.”
Padahal orang-orang khawarij itu termasuk orangorang
yang banyak beribadah, bertahlil dan bertasbih.
Sampai-sampai para sahabat merasa rendah diri di
hadapan orang-orang khawarij itu. Mereka telah
belajar ilmu dari para sahabat, akan tetapi meski
begitu, ucapan mereka: )
*+,( -.3/ ,( /+ sama sekali tidak
berguna bagi mereka.

Begitu juga ibadah mereka yang banyak dan
pengakuan Islam mereka juga tidak berguna tatkala
telah tampak dari mereka perlawanan terhadap
syari’ah.
Demikian halnya apa yang sudah kami sebutkan
tentang peperangan terhadap orang-orang Yahudi dan
peperangan para sahabat terhadap bani Hanifah.
Begitu juga Rasulullah ingin memerangi bani
Mushthaliq tatkala seorang lelaki dari mereka
memberitahu beliau bahwasanya bani Mushthaliq
enggan membayar zakat, sehingga Allah
menurunkan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka
periksalah dengan teliti.” (QS. Al Hujuraat: 6).
Dan benar, bahwa lelaki itu telah berbohong dalam
memberitakan tentang mereka. Semua ini
menunjukkan bahwa maksud nabi dalam hadits hadits
yang mereka pakai sebagai hujjah itu adalah
seperti apa yang kami sudah sebutkan diatas.
Dan orang-orang musyrik itu masih mempunyai
syubhat lain. Yaitu apa yang pernah disebutkan oleh
nabi bahwasanya manusia nanti dihari kiamat akan
baristighatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi
Adam , kemudian kepada Nabi Nuh , kemudian
kepada Nabi Ibrahim , kemudian kepada Nabi Musa
, kemudian kepada Nabi Isa , Lalu semuanya
tidak dapat melakukan sehingga akhirnya mereka
sampai ke Rasulullah . Orang-orang musyrik itu
mengatakan: "hal itu menunjukkan, bahwasanya
istighatsah kepada selain Allah itu tidak Syirik".
Sebagai jawabannya, hendaklah kita katakan:
"Maha Suci Allah Yang Mengunci mati hati musuh musuh-
Nya. Sesungguhnya istighatsah kepada
makhluk dalam hal yang dia mampu, kami tidak
memungkirinya, sebagaimana firman Allah tentang
kisah nabi Musa .:

“Maka orang yang dari golongannya meminta
pertolongan (beristightsah) kepadanya, atas orang yang
dari musuhnya.” (QS. Al Qashash:15).
Dan sebagaimana seseorang meminta pertolongan
kepada teman-temannya dalam peperangan atau hal
lain yang makhluk mampu mengerjakannya. Kami
hanya mengingkari istightsah Al-ibadah (istightsah
yang bersifat penyembahan) yang mereka lakukan di
sisi kuburan-kuburan para wali atau istightsah kepada
wali itu di saat para wali itu di tempat yang jauh,
bukan di hadapannya, dalam hal-hal yang tidak ada
seorangpun mampu atas hal itu kecuali Allah.
Jika ini telah tegas, maka istightsah mereka kepada
para Nabi di hari kiamat seraya menginginkan dari
nabi-nabi itu untuk berdo’a kepada Allah agar segera
melakukan hisab kepada manusia sehingga penduduk
syurga dapat beristirahat terlepas dari susah dan
payahnya keadaan waktu itu.
Hal ini memang boleh di dunia dan di akhirat.
Yaitu, misalnya; anda datang kepada seorang yang
shaleh yang masih hidup, dia duduk mendampingi
anda dan mendengarkan perkataan anda, anda
mengatakan kepadanya: “Berdo’alah kepada Allah
untukku”, sebagaimana dahulu para sahabat
Rasulullah memohon hal itu kepada beliau di saat
beliau hidup.
Sedangkan sesudah beliau wafat, sekali-kali tidak
dan sekali-kali tidak, dan tidaklah para sahabat itu
memohon hal itu di sisi kuburan beliau .
Bahkan, ulama’ salaf mengingkari orang yang
bermaksud berdo’a kepada Allah di sisi kuburan beliau
, lebih-lebih berdo’a memohon kepada diri beliau ?
Syubhat lain yang dimiliki orang-orang musyrik
adalah kisah Nabi Ibrahim tatkala dilempar ke
dalam api, Malaikat Jibril menghalanginya di udara.
Lalu, Jibril bertanya kepada Ibrahim : "Apakah
kamu butuh sesuatu? Maka Ibrahim menjawab:
"kepadamu saya sama sekali tidak butuh". Lantas
mereka mengatakan: Kalau istighatsah itu syirik tentu
Jibril tidak akan menawarkan pertolongannya kepada
Nabi Ibrahim .
Sebagai jawabannya ialah: "Sesungguhnya hal ini
termasuk jenis syubhat yang pertama. Sebab,
sesungguhnya malaikat Jibril telah menawarkan
kepada Ibrahim untuk memberi pertolongan
kepadanya dalam hal yang Jibril mampu
melaksanakan hal itu. Karena sesungguhnya malaikat
Jibril, seperti yang difirmankan Allah tentang diri
Jibril:

Artinya: “Yang sangat kuat.” maka, jika diizinkan
untuk mengambil api dan apa yang ada di sekitar api
itu lalu ia lemparkan ke ufuk timur atau barat niscaya
akan ia kerjakan. Jika Allah memerintahkannya untuk
meletakkan Nabi Ibrahim di tempat yang jauh dari
mereka, niscaya ia dapat melakukannya. Dan jika
Allah memerintahkannya untuk mengangkat Ibrahim
ke langit, niscaya ia dapat melakukannya.
Hal ini tak beda seperti seorang lelaki kaya-raya
sedang melihat orang yang membutuhkan. Lantas ia
menawarkan kepadanya untuk menghutanginya dan
memberinya sesuatu yang dapat memenuhi
kebutuhannya. Tetapi, orang yang membutuhkannya
itu tidak mau meminjam dan bahkan ia terus bersabar
sampai Allah mendatangkan kepadanya rezeki yang ia
tidak merasa tertumpangi jasa orang lain.
Betapa jauhnya perbedaan antara hal ini dengan
istighatsah al-ibadah dan syirik, jika mereka benarbenar
orang-orang yang mengerti(23).
Baiklah, kami segera tutup pembicaraan ini dengan
suatu masalah yang besar dan penting, yang dapat
difahami dari hal-hal yang terdahulu. Akan tetapi kami
khususkan pembicarannya mengingat betapa besarnya
( 23) Orang yang telah mati tidak akan mendengar do’a orang yang berdo’a kepada mereka
dan tidak pula mendengar Istighatsah orang yang beristighatsah kepada mereka. Hal
ini berdasarkan firman Allah ta’ala:
"Jika kamu berdo’a (menyeru) mereka, mereka tiada mendengar do’a
(seruanmu)." (QS Al-Fatir: 14).
Maka para penyembah orang mati senantiasa dalam kesesatan, selagi mereka tetap
berdo’a kepada orang-orang mati itu, karena ibadah mereka berlawanan dengann nash
Al-Qur’an.
masalah ini dan betapa banyaknya salah pengertian
dalam masalah ini. Maka kami katakan(24):
Tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama’
bahwasanya tauhid itu wajib diwujudkan dengan hati,
lisan dan amal perbuatan. Maka, jika hilang satu saja
dari ketiga hal itu (hati, lisan dan amal) maka seorang
belum dakatakan muslim. Lalu, jika seorang
mengetahui tauhid, tetapi tidak melaksanakan tauhid
itu, maka ia dihukum kafir Mu’aanid (orang kafir yang
membangkang), seperti kekafiran fir’aun, Iblis dan
yang serupa dengan keduanya.
Banyak dari manusia yang salah pengertian dalam
masalah ini, mereka mengatakan: "Sesungguhnya hal
ini haq (benar) dan kami memahaminya serta bersaksi,
bahwasanya hal itu benar. Akan tetapi, kami tidak
Mampu untuk melaksanakannya. Dan tidak
dibolehkan penduduk negeri kami, kecuali orang yang
sefaham dengan mereka". Atau berbagai alasan yang
lain.
Si bodoh yang miskin pengertian ini tidak tahu,
bahwa sebagian besar pemuka-pemuka kafir mereka
mengetahui kebenaran itu dan mereka tidak
meninggalkannya, dengan berbagai alasan,
sebagaimana firman Allah :
( 24) Masalah ini diberi bab dalam kitab-kitab tauhid dengan masalah iman, yaitu
bahwasanya Iman adalah ucapan dengan lisan, I’tikad (keyakinan) dengan hati dan
pengamalan (pelaksanaan) dengan rukun-rukunnya.

“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga
yang sedikit.” (QS. At Taubah: 9).
Dan ayat-ayat yang lain. Seperti firman Allah:

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) itu
mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mengenal
anaknya sendiri.” (Q.S. Al Baqarah:146 dan Al
An’aam:20).
Jika seorang melaksanakan tauhid dengan
perbuatan yang tampak mata, sedangkan dia tidak
memahami tauhid itu dan tidak meyakininya dengan
hatinya, maka dia adalah munafiq. Dan orang munafiq
lebih jelek dari orang kafir.

“Sesungguhnya orang munafiq itu (ditempatkan)
pada tingkat yang paling bawah dari neraka.” (Q.S. An
Nissa’:145).
Ini masalah yang panjang, akan jelas bagi anda,
jika anda telah merenungkannya melalui apa yang
keluar dari lisan-lisan manusia, anda akan lihat orang
yang mengetahui al haq (kebenaran) tetapi tidak mau
melaksanakan kebenaran itu karena rasa takut
kekurangan dunia atau karena pangkat di bidang
agama atau dunia ataupun karena basa-basi
menyesuaikan diri dengan orang. Dan anda juga akan
melihat orang yang mengamalkan secara zhahir,
sedang batinnya menolak. Akan tetapi wajib bagi anda
untuk memahami dua ayat dari kitab Allah ini.
Ayat yang pertama adalah firman Allah ta'ala:

“Tidak usah minta ma’af (beralasan), karena kamu
kafir sesudah beriman.” (Q.S. At Tubah: 66).
Jika telah jelas bagi anda, bahwasanya sebagian
para sahabat yang telah memerangi bangsa Romawi
bersama Rasulullah itu kafir hanya karena mereka
mengucapkan suatu kalimat (perkataan) atas dasar
main-main dan canda, maka teranglah bagi anda,
bahwasanya orang yang mengucapkan dirinya kafir
karena rasa takut kekurangan harta atau karena demi
pangkat ataupun karena berbasa-basi menyesuaikan
diri dengan orang, adalah lebih besar kesesatannya
dari orang yang mengucapkan suatu kalimat kekafiran
dengan maksud bercanda.
Ayat yang kedua adalah firman Allah Ta'ala:

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah ia
beriman (dia mendapat kemurkaan dari Allah), kecuali
orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang
dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang
yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka
kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang
besar. Yang demikian itu disebabkan karena
sesunguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih
dari akhirat.” (QS. An Nahl:106-107).
Maka, Allah tidak menerima uzur mereka kecuali
orang yang dipaksa kafir disertai keberadaan hati yang
tetap tenang dalam keimanan. Adapun selain itu, maka
ia benar-benar telah kafir sesudah beriman, baik ia
mengerjakan itu karena rasa takut atau sekedar
berpura-pura untuk menyesuaikan diri dengan orang,
atau karena rasa bakhil dengan negerinya atau
keluarganya atau kerabat-kerabatnya ataupun harta
bendanya. Ataupun ia melakukan tindakan kekafiran
itu atas dasar canda atau karena atas tujuan-tujuan
lain, kecuali orang yang dipaksa kafir.
Oleh karenanya, ayat diatas menunjukkan hal itu
dari dua segi; Yang pertama: firman Allah ta'ala:

“kecuali orang yang dipaksa kafir” Disini Allah
hanya mengecualikan orang yang dipaksa kafir, dan
sudah maklum, bahwasanya orang tidak dipaksa
kecuali supaya mengucap atau berbuat, sedangkan
keyakinan (I’tikad) hati, tidak ada seorang pun yang
dipaksa untuk meyakininya.
Yang kedua: firman Allah ta'ala:

“Yang demikian itu disebabkan karena
sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih
dari akhirat.”(QS.An Nahl: 107).
Maka, Allah telah menerangkan ayat itu dengan
jelas, bahwasanya kekafiran dan siksa tidaklah
disebabkan I’tikad, kebodohan dan kebencian kepada
agama, serta cinta kepada kekafiran melainkan
sebabnya adalah karena mereka mendapat
keuntungan-keuntungan dunia, lalu hal itu ia
utamakan melebihi agama, dan hanya Allah Yang
Lebih Tahu, Yang Lebih Perkasa dan Yang Lebih Mulia.
Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada
Nabi kita; Muhammad dan kepada para sahabat
beliau.
(Tamat dan Segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam).

RISALAH PENTING DAN BERFAEDAH

Segala puji bagi Allah dan cukuplah Dia (sebagai
Pelindung). Semoga salam sejahtera tetap
terlimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia
pilih.
Amma ba’du.
Ketahuilah (wahai saudaraku seiman), semoga
Allah menunjukkan jalan lurus kepada anda,
sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk agar
mereka menyembah-Nya semata dan tidak
menyekutukan sesuatupun dengan-Nya.
Allah ta'ala telah berfirman:

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”(QS.
Adz Dzaariyat:56).
Ibadah adalah tauhid, karena sesungguhnya
pertentangan dan permusuhan yang terjadi antara
para nabi dengan ummat terdahulu adalah tentang
tauhid, sebagaimana firman Allah :

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul
kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“beribadahlah kalian kepada Allah, dan jauhilah
thaghut.” (QS. An Nahl:36).
Adapun tauhid itu ada tiga macam: 1-Tauhid Ar
Rububiyyah, 2- Tauhid Al Uluhiyyah, 3- Tauhid Asma’
wa Ash Shifaat.

1- TAUHID AR RUBUBIYYAH
Tauhid Arrububiyyah adalah tauhid yang diakui
oleh orang-orang kafir pada zaman Rasulullah .
Tetapi, tauhid itu tidak dapat memasukan mereka ke
dalam agama Islam. Karena itulah mereka diperangi
oleh Rasulullah dan beliau menghalalkan darah
dan harta benda mereka. Tauhid ini adalah
mengesakan Allah dengan meyakini keEsaan Dia
dalam perbuatan-Nya , dalil tauhid Ar Rububiyyah
adalah firman Allah :

Katakanlah:“Siapakah yang memberi rezki
kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang
mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan
siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka
akan menjawab: Allah.” Maka katakanlah: “mengapa
kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”.(QS. Yunus:31).

"Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini dan
semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”
mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”.
Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”.
Katakanlah: “Siapakah Rabb langit yang tujuh dan
Rabbnya Arsy yang besar?”, mereka akan menjawab :
“Kepunyaan Allah“. Katakanlah: Maka apakah kamu
tidak bertaqwa?. Katakanlah: siapakah yang
ditangannya kekuasaan atas segala sesuatu,sedang
Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat melindungi
dari adzab-Nya, Jika kamu mengetahui ? mereka akan
menjawab :kepunyaan Allah. Katakanlah: (kalau
demikian) maka dari jalan manakah kamu ditipu?. (QS
Al-Mu’minun: 84-89).
Dan ayat-ayat yang menunjukkan hal ini sangat
banyak sekali, sangat banyak, tak perlu dihitung dan
sangat masyhur tak perlu disebut.

2. TAUHID AL- ULUHIYYAH.
Tauhid Al-Uluhiyyah adalah tauhid yang menjadi
obyek perselisihan pada zaman dahulu dan sekarang.
Yaitu, mengesakan Allah dengan pemurnian ibadah
para hamba-Nya untuk-Nya. Seperti; do’a, nazar,
menyembelih, mengharap, rasa takut, tawakkal, arraghbah
(keinginan), ar-Rahbah (rasa takut dengan
disertai pengagungan) dan al-inabah (rasa ingin
kembali kepada Allah).
Dalil do’a adalah firman Allah :

"Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku), akan masuk
nereka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Al
Mu’min:60).
Dan setiap macam dari macam-macam itu ada
dalilnya dari Al Qur’an.
Dasar dan intisari ibadah adalah memurnikan
keikhlasan kepada Allah semata dan memurnikan al
Mutaaba’ah (mengikuti dan ketaatan) kepada
Rasulullah saja. Allah ta'ala telah berfirman:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah
kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah
seseorang di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”
(Q.S. Al Jin:18).
Dan firman Allah :

Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasulpun
sebelum kamu, melainkan pastilah kami mewahyukan
kepadanya: “Bahwasanya tidak ada ilah (Yang Hak)
disembah kecuali Aku, maka sembahlah Aku .” (Q.S. Al
Anbiyaa’:25).
Dan firman Allah :

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang
benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain
Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu bagi
mereka, melainkan seperti orang yang membukakan
kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai
ke mulutnya. Dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu,
hanyalah sia-sia belaka.” (Q.S. Ar ra'ad:14).
Dan firman Allah ta'ala:

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah
Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka
seru selain Allah, itu yang batil, dan sesungguhnya
Allah Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S.
Luqman:30).
Ayat-ayat (tentang hal ini) sudah dimaklumi.
(Lalu tentang mutaba’ah kepada Rasulullah ,
dalilnya adalah sebagai berikut):
Allah befirman:

"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka
ambil lah dia Dan apa yang kalian dilarang dari
(melakukannya) maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7).
Dan firman Allah :

"Katakanlah: “jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu
dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali’Imran:31).

3-TAUHID AL-ASMAA’ WA SHIFAT:
Adalah mentauhidkan dan mengesakan Dzat
Allah, Asmaa’ (nama-nama)-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Allah berfirman:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Satu. Allah adalah
Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia
tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak
seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas:1-4).
Dan firman Allah ta'ala:

“Hanya milik Allah Al-asma-ul-husna, maka
berdoalah dengan menyebut al-asma-ul-husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti
mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang
mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf:180).
Dan Allah (juga) telah berfirman:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy Syuura:11).
Kemudian, ketahuilah wahai saudaraku seiman
bahwasanya lawan tauhid adalah syirik.
Dan Syirik itu ada tiga macam:
1-Syirik Akbar 2- Syirik Ashghar 3- Syirik khafiy.
Dalil Syirik Akbar adalah firman Allah :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia
mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka
sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An
Nisaa’:116).

Al Masih berkata: “Hai bani Israil, sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti
Allah akan mengharamkan kepadanya syurga, dan
tempatnya adalah neraka, dan tidaklah bagi orangorang
zhalim itu seorang penolongpun. (QS. Al
Maa’idah: 72).
Dan syirik akbar ini ada empat macam, yaitu:
Pertama: Syirik ad-Da’wah (menyekutukan sesuatu
dengan Allah dalam berdo’a).
Dalilnya adalah firman Allah ta'ala:

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a
kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-
Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka
sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali)
mempersekutukan (Allah). (QS. Al ‘Ankabuut: 65).
Kedua: Syirik an-niyyah, al Iraadah dan al-Qashd
(Mempersekutukan Allah dalam berniat melakukan
sesuatu, berkeinginan dan bertujuan).
Dalilnya adalah firman Allah :

"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia
dan Perhiasannya, niscaya kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan
dirugikan, Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di
akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa
yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah
apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud:15-16).
ketiga: Syirik ath thaa’ah (Menyekutukan Allah
dalam keta’tan).
Dalilnya adalah firman :

“Mereka menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka
mempertuhankan) al Masih putera Maryam; padahal
mereka hanya disuruh menyembah Rabb yang Maha
Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia.
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
(Q.S. At Taubah:31).
Dan penafsiran ayat itu secara tegas dan jelas
adalah menta’ati para ulama’ (orang-orang ‘alim) dan
hamba-hamba Allah yang lain dalam bermaksiat
kepada Allah, bukan menujukan permohonan dan do’a
mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib(
pendeta-pendeta) itu. Sebagaimana yang sudah
ditafsirkan oleh Rasulullah kepada ‘Adiy bin Haatim
tatkala ia ditanya oleh beliau , lalu kata ‘Adiy:

Kami tidak menyembah mereka.”
Kemudian Rasulullah menuturkan kepadanya,
bahwasanya maksud beribadah kepada mereka adalah
menta’ati mereka dalam bermaksiat kepada Allah.
keempat: Syirik al mahabbah ( kecintaan )
(Mempersekutukan Allah dengan mencintai
sembahan-sembahan batil atau semacamnya di
samping mencintai Allah).
Dalilnya adalah firman Allah :

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.”
(Q.S. Al Baqarah:165).

Sedangkan jenis syirik yang kedua adalah Syirik
ashghar (Syirik kecil). Dan Syirik ashghar adalah
riyaa’.
Dalilnya adalah firman Allah :

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan
Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang
dalam beribadat kepada rabbnya,.” (Q.S. Al Kahfi:110).
Dan jenis Syirik yang ketiga adalah Syirk Khafiy
(Syirik yang tersembunyi). Dalil Syirik khafiy ini adalah
sabda Rasulullah :

“Syirik pada umat ini lebih tersembunyi dari seekor
semut hitam yang kecil yang berada pada sebuah batu
yang hitam pada malam yang kelam.”
Dan kaffarah (penghapus dosa) syirik itu adalah
sabda Rasulullah :

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu
(dari) mempersekutukan sesuatu dengan Mu (padahal)
aku mengetahui. Dan aku mohon ampun kepada-Mu
dari dosa yang tidak aku ketahui.”

Kufur itu ada dua:
A-Kufur yang mengeluarkan pelakunya dari agama
Islam, dan dia ada lima macam:
1- Kufur at Takdziib (kufur mendustakan). Dalilnya
adalah firman Allah :


“Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orangorang
yang mengadakan kedustaan terhadap Allah
atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu
datang kepadanya? Bukankah dalam nereka jahannam
itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (Q.S. Al
Ankabuut:68).

2- Kufur al Ibaa’ wal- istikbaar ma’at Tashdiq (kufur
karena membangkang dan menyombongkan diri
disertai pembenaran).
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:


"Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka
sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir.
(QS. Al Baqarah:34).

3- Kufur asy-syakk yaitu kufur azh Zhann (Kufur
karena keraguan dan perasangka. Dalilnya adalah
firman Allah :

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim
terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “aku kira kebun ini
tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku kira hari
kiamat itu tidak akan datang, dan jika sekiranya aku
dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan
mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada
kebun-kebun itu. Kawannya (yang mu’min) berkata
kepadanya sedang ia bercakap-cakap dengannya:
“Apakah engkau kafir kepada Yang menciptakan kamu
dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Ia
menjadikan kamu seorang lelaki yang sempurna? Tetapi
aku (percaya bahwa) Dia-lah Allah, Rabbku, dan aku
tidak mempersekutukan seseorang pun dengan
Rabbku.” (QS. Al Kahfi:35-38).
4- Kufur al-I’radh (kufur karena berpaling).
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

“Dan orang-orang kafir itu berpaling dari apa yang
mereka diperingatkan dengannya” (QS. Al Ah-Qaaf: 3).
5- Kufur an-Nifaaq (kufur karena kemunafikan).
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

“Yang demikian itu adalah karena bahwa
sesungguhnya mereka telah beriman kemudian menjadi
kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu
mereka tidak mengerti.” (Q.S. Al Munaafiquun:3).
B-Dan kufur kecil yang tidak mengeluarkan
(pelakunya) dari agama Islam.
Kufur ini adalah kufur an-Ni’mah (mengkufuri
nikmat Allah). Dan dalilnya adalah firman Allah :

“Dan Allah telah membuat perumpamaan (dengan)
sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram,
rezekinya datang kepadanya berlimpah-limpah dari
segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari
ni’mat-ni’mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada
mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan
apa yang selalu mereka perbuat." (Q.S. An Nahl:112).
Sedangkan nifaq (sifat kemunafikan hati) itu ada
dua macam:
1-I’tiqad(Secara keyakinan hati). 2-‘Amali (Secara
perbuatan)

Nifaq I’tiqad ada 6 macam:
1- Mendustakan Rasulullah .
2- mendustakan sebagian ajaran yang dibawa
Rasulullah .
3- Membenci Rasulullah .
4- Membenci sebagian ajaran yang dibawa
Rasulullah .
5- Bergembira dengan menurun/mundurnya agama
Rasulullah .
6- Tidak senang dengan kemenangan Agama
Rasulullah .
Pelaku Nifaq I’tiqadi ini termasuk penghuni
neraka di tingkat paling bawah .
Sedangkan Nifaq ‘Amali ada 5 macam. Dalilnya
adalah sabda Rasulullah .

"Tanda orang munafiq itu ada tiga: Jika berbicara ia
berbohong, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya
ia berkhianat", dalam riwayat yang lain: "jika
bemusuhan ia berbuat jahat, Dan jika mengadakan
perjanjian setia ia melanggar (mengkhianatinya)."
Kami berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari
sifat nifaq, permusuhan dan jeleknya akhlak. Wallahu
A’lam (hanya Allah yang lebih tahu).

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam.

Diposting Oleh : Wawan Sihabuddin

Wans Sihabuddin Anda sedang membaca artikel tentang MENGUNGKAP KEBATILAN ARGUMEN PENENTANG TAUHID. Anda diperbolehkan mengcopy paste isi blog ini, namun jangan lupa untuk mencantumkan link ini sebagai sumbernya. Beritahukan kepada saya jika ada Link yang rusak atau tidak berfungsi. Apabila suka dengan postingan ini silahkan di Like dan Share dengan tidak lupa Komentar dan Masukannya.

:: Get this widget ! ::

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin
Reaksi:

0 komentar:

Waktu Adzan

Pilih Artikel

Arsip Lain

Followers

Translite

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
By : Kawani

Sponsor

Random Post

Al-Qur'an

Al-Qur'an Online

Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:

Shalat Tepat Waktu

Kalender Hijriyah




Perhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

Popular Posts

Space Ad

Ingin Berlangganan Post Terbaru

Subscribe via Email