Rabu, 20 Juli 2011

ASMA DAN SIPAT ALLAH

Kaidah-kaidah Utama tentang Asma` dan Sifat Allah

Disusun Oleh:
Muh. Iqbal Ghazali
Murajaah :
Abu Ziyad
القواعد في الأسماء والصفات

محمد إقبال غزالي

Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah 1429 – 2008

Kaidah-kaidah Utama tentang Asma` dan
Sifat Allah I
Segala puji bagi Allah I yang telah menciptakan jin dan manusia
untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, Dia mengutus para rasul
kepada umat manusia. Dia I menerangkan rincian ibadah, tujuan
penciptaan mereka di dalam Kitab-Nya yang mulia dan di dalam Sunnah
Rasul-Nya yang terpercaya. Dia I memerintahkan hamba-Nya untuk
melaksanakan seluruh apa yang diwajibkan dan meninggalkan semua yang
dilarang, secara ikhlas kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap
terlimpahkan kepada Nabi Muhammad r, beserta keluarga, para sahabat,
dan pengikutnya yang baik hingga hari kiamat. Amma ba'du,
Asma` dan sifat adalah termasuk bagian dalam tauhid, (selain Tauhid
Rububiyah dan Tauhid Uluhiyyah), yang maknanya adalah beriman kepada
nama-nama Allah I dan sifat-sifat-Nya sebagaimana diterangkan dalam al-
Qur`an dan Sunnah Rasul-Nya menurut apa yang pantas bagi Allah I
tanpa tahrif (mengubah lafazh dan membelokkan makna sebenarnya), ta'thil
(pengingkaran seluruh atau sebagian sifat dan Dzat Allah I), takyiif
(menanyakan bagaimana Allah I), tamtsil (menyerupakan Allah I dengan
makhluk-Nya). Dalam hal ini Allah I berfirman:

{ لَيس كَمِثْلِهِ شىء وهو السمِيع البْصِير { 11

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura:11)
Hal ini menunjukkan apabila kita mengenal Asma`ul Husna dengan
bersungguh-sungguh, menghafal, kemudian memahami maknanya serta
beribadah kepada Allah I maka akan menjadi penguat iman yang paling
besar, bahkan mengenal Asma` dan sifat-Nya merupakan dasar iman, di
mana iman seseorang itu kembali kepada dasar yang agung ini.
Berdasarkan hal tersebut, dalam kesempatan ini kami menulis
beberapa kaidah penting tentang asma dan sifat Allah I yang dikutip dari
kitab 'al-Qawa'idul Mutsla fil asma`i wash shifat karya Syaikh Muhammad
bin Shalih al-'Utsaimin dan dari kitab Syarh asma`ilhusna fii dhauil kitaab
wass sunnah, karya Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, serta dari
kitab Faidah Jalillah fi Qawa'idil Asma`il Husna, karya Ibnul Qayyim.
Dengan harapan semoga kutipan singkat ini bermanfaat bagi kita semua -
kaum muslimin- yang mengharapkan ridha Allah.
Allah berfirman:

و اْلأَسمآء ال حسنى فَادعوه بِها
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asma-ul husna itu. (QS. Al-A'raaf:180)

Doa yang disebutkan dalam ayat di atas mengandung doa masalah dan doa
ibadah. Doa masalah adalah memohon kepada Allah I diawali dengan
menyebutkan nama yang sesuai dengan satu atau beberapa nama dari
nama-nama-Nya. Seperti mengatakan:

يا غَفُور اغْفِرليِ، يارحِيم ارحمنِي، ياحفِيظُ احفَظْنِي

"Ya Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah aku. Ya Allah Yang Maha
Pengasih, kasihilah aku. Ya Allah Yang Maha Pelindung, lindungilah aku."
Sedangkan doa ibadah adalah melaksanakan ibadah kepada Allah I
berdasarkan Asma`ul Husna ini. seperti kita bertaubat kepada Allah I
karena Dia Maha Penerima Taubat, berdzikir dengan-Nya karena Dia Maha
Mendengar, beribadah dengan raga karena Dia Maha Melihat, dengan seterusnya.
Mengingat pentingnya masalah asma` dan sifat ini, banyak umat
Islam yang membicarakannya. Ada yang sesuai dengan al-Qur`an dan
Sunnah dan hanya inilah golongan yang benar dan diridhai Allah I, ada
yang menyimpang dari jalan yang lurus dengan menolak semua asma dan
sifat Allah I, ada yang menerima sebagian sifat Allah I dan menolak
sebagian yang lain, ada pula yang memalingkannya dari makna yang
sebenarnya. Di antara kaum yang menyimpang itu, ada yang karena salah
dalam memahami dalil, ada yang karena bodoh, dan ada pula yang hanya
karena berdasarkan ta'ashshub buta. Dan agar kita tidak terjerumus ke
jalan yang menyimpang, berikut ini beberapa kaidah penting yang
berkenaan dengan asma` dan sifat Allah:

1. Seluruh Asma Allah I adalah husna, artinya Maha Indah. Firman
Allah:
و اْلأَسمآء ال حسنى فَادعوه بِها

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asma-ul husna itu. (QS. Al-A'raaf :180)
Asma Allah I Maha Indah dan sempurna karena tidak terkandung di
dalamnya kekurangan sedikitpun, baik secara eksplisit maupun implisit.
Contohnya: العليم (Yang Maha Tahu) salah satu asma` Allah I yang
mengandung sifat 'ilmu' (pengetahuan) yang sempurna, tidak didahului oleh
sifat kebodohan dan tidak pula dihinggapi sifat lupa. Firman Allah :

قَالَ عِلْ مها عِند ربي فِي كِتابٍ لاَّيضِلُّ ربي ولاَينسى

Musa menjawab:"Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam
sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; (QS. Thaha:52)

Ilmu pengetahuan Allah I maha luas, meliputi segala sesuatu, baik secara
umum maupun rinci, berkenaan dengan perbuatan Allah I sendiri maupun
makhluk-Nya. firman Allah :

وعِنده مفَاتِ ح الْغيبِ لاَيعلَ مهآ إِلاَّ هو ويعلَ م مافِي الْبرالْبحرِ وما تسق ُ ط مِن ورقَةٍ يعلَ مها ولاَحبةٍ فِي ظُُلمات ْالأَرضِ ولاَرطْبٍ ولاَيابِسٍ إِلاَّ فِي كِتابٍ مبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS.al-An'aam:59)
Dan firman Allah:

{ ومامِن دآبةٍ فِي اْلأَرضِ إِلاَّ علَى ا رِزْقُها ويعلَم مستَقَرا ومستَودعها كُلٌّ فِي كِتَابٍ مبِينٍ { 6
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh). (QS. Huud:6)

Kedua ayat di atas memberikan penjelasan secara nyata bahwa tidak ada
sesuatupun di alam semesta ini yang terlepas dari ilmu Allah I yang Maha
Luas dan tanpa batas. Itulah kesempurnaan dan keindahan ilmu Allah I.
Demikian pula sifat-sifat Allah I yang lainnya, semuanya indah dan
sempurna.

2. Asma` Allah I adalah nama dan sifat.
Nama dipandang dari indikasinya (dalalah) kepada dzat dan sifat
dipandang dari indikasinya kepada makna. Dari pengertian pertama, maka
seluruh asma` adalah mutaradif (sinonim), karena indikasinya hanya
kepada satu dzat, yaitu Allah I. Sedangkan dari pengertian kedua, maka
semua asma Allah I adalah mutabayinah (diferensial), karena setiap asma`
mempunyai indikasi (dalalah) makna yang tersendiri. Contohnya:
الحي العليم القدير السميع البصير الرحمن الرحيم
Semuanya adalah asma untuk satu Dzat, yaitu Allah I. Akan tetapi makna
الحيي tidak sama dengan makna العليم dan العليم tidak sama dengan makna القدير
demikianlah seterusnya.

Asma Allah disebut nama dan sifat berdasarkan petunjuk dari al-Qur`an,
seperti firman Allah :
و هو الْغفو ر الرحِي م
dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus: 107)
dan firman Allah :
وربك الْغفو ر ذُو الرحمةِ
Dan RabbmulahYang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat.. (QS. Al-
Kahf :58)
Ayat yang kedua dengan jelas menunjukkan bahwa ar-Rahim yaitu yang
mempunyai sifat rahmah.
Selain itu, berdasarkan konsensus para ahli bahasa dan adat
kebiasaan, bahwa tidak dikatakan 'alim kepada orang yang tidak
mempunyai ilmu, tidak dikatakan sami' kepada orang yang tidak
mempunyai pendengaran, tidak dikatakan bashir kepada orang yang tidak
mempunyai penglihatan, dan demikian pula seterusnya.

3. Asma Allah I, jika menunjukkan pengertian transitif (muta'adii),
maka mengandung tiga hal:
Pertama: ketetapan asma tersebut untuk Allah I.
Kedua: ketetapan sifat yang dikandung oleh Asma ini untuk Allah I.
Ketiga: Ketetapan hukumnya dan tuntutannya (objek) dari sifat tersebut.
Contoh nama السميع (Maha Mendengar), mengandung ketetapan nama ini
untuk Allah I, ketetapan bahwa Allah I mempunyai sifat 'sama'
(mendengar), dan ketetapan hukum dan tuntutannya (objek), yaitu segala
bisikan dan kata-kata rahasia serta segala bunyi yang selalu didengar oleh
Allah I, sebagaimana firman-Nya:
واللهُ يسم  ع تحا  ور ُ كمآ إِنَّ اللهَ سمِي  ع بصِ  ير
Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua.Sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Mujadilah:1)
Akan tetapi jika nama Allah I menunjukkan makna intransitif
(lazim), maka hanya mengandung dua hal:
Pertama: ketetapan nama tersebut untuk Allah I.
Kedua: ketetapan sifat yang dikandung oleh makna ini untuk Allah I:
contoh: nama ' الحي ' (Yang Maha Hidup) mengandung ketetapan bahwa nama
ini untuk Allah I dan ketetapan adanya sifat 'hayah' (hidup) bagi-Nya.
4. Asma` Allah I adalah tauqifiyyah, yaitu berdasarkan pada wahyu,
akan tidak mempunyai peran di dalamnya.
Oleh karena itu, dalam masalah asma` ini harus berlandaskan al-
Qur`an dan Sunnah yang shahih, tidak boleh ditambah ataupun dikurangi,
karena akal saja tidak mungkin dapat mengetahui asma yang dimiliki oleh
Allah I. Untuk itu wajib berpijak kepada nash. Firman Allah I:
ولاَتقْ  ف مالَيس َلك بِهِ عِلْ  م إِنَّ السمع والْبصر والُْفؤاد كُلُّ ُأولاَئِك كَانَ عنه مسُئولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra` :36)
Selain itu, memberikan nama kepada Allah I dengan asma` yang tidak
ditetapkan oleh Allah I bagi diri-Nya sendiri, atau mengingkari asma`-Nya
adalah pelanggaran terhadap hak Allah I. Maka, wajiblah berlaku sopan
6
dalam masalah ini dan cukup dengan mengikuti apa yang datang dari
nash.
5. Asma` Allah I tidak terbatas pada bilangan tertentu, berdasarkan
sabda Rasulullah r:
ما َأصاب مسلِما قَطُّ هم ولاَ حز ٌ ن فَقَالَ اللّ  هم إِني عب  دك واْب  ن َأمتِك ناصِيتِي فِى يدِك ماٍض فِي حكْ  مك عد ٌ ل
فِي قَضاءُك َأسَأُلك بِ ُ كلِّ اسمٍ هو َلك سميت بِهِ نفْسك َأو َأنزلْته فِى كِتابِك َأو علَّمته َأحدا مِن  خلْقِك َأو
استأَْثرت بِهِ فِى عِلْمِ الْغيبِ عِندك َأنْ ت  جعلَ الُْقرآنَ ربِيع قَلْبِي وجلاَءَ حزنِي وذهاب همي إِلاَّ َأذْهب اللهُ همه
وأَبدلَه مكَانَ حزنِهِ فَرحا
'Tidak ada duka cita dan kesedihan yang menimpa seorang muslim, lalu ia
membaca: 'Ya Allah I sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan putra dari
jariyah-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, berlaku padaku hukum-Mu,
sangat adil padaku keputusan-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan seluruh
asma-Mu, yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu, atau Engkau turunkan
dalam kitab-Mu, atau engkau ajarkan kepada seseorang di antara makhluk-
Mu, atau masih dalam rahasia gaib pada-Mu, yang hanya Engkau sendiri
yang mengetahuinya, agar Engkau jadikan al-Qur`an sebagai penyejuk
hatiku, pembersih sakit hatiku, dan penghapus kesedihanku,' melainkan
Allah I menghilangkan kesedihan hatinya dan menggantikan tempat duka
citanya menjadi kebahagiaan.'1
Dia I menjadikan asma-Nya menjadi tiga bagian:
1. Nama yang Dia berikan untuk dirinya dan Dia beritahukan kepada
para malaikat-Nya atau yang lainnya, namun nama-nama-Nya tidak
disebutkan dalam kitab-Nya.
2. Dia menurunkan nama itu dalam kitab-Nya dan memberitahukan
kepada hamba-hamba-Nya.
3. Yang menjadi rahasia gaib padanya dan hanya Dia sendiri yang
mengetahuinya, tidak ada seorangpun di antara makhluk yang
mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi r bersabda: "Ista`tsarta bihi"
artinya hanya Engkau yang mengetahuinya. Dan berdasarkan ini
Nabi r bersabda dalam hadits syafaat:
1 HR. al-Hakim 1877, Ibnu Hibban 972, Ahmad 3712 &4318, Ibnu Abi Syaibah
28318, dan Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabir 10352-Shahih).
7
فَيفْت  ح علَي مِن محامِدِهِ بِما لاَ ُأحسِنه ْالآنَ
"Maka dibuka kepadaku (untuk mengungkapkan) segala pujian kepada-Nya
dengan pujian yang tidak bisa saya ungkapkan dengan baik di sini (di
dunia)."2
Dan dalam hadits yang lain:
لاَ ُأحصِي َثناءً علَيك كَما َأْثنيت علَى نفْسِك
"Aku tidak bisa menghinggakan pujian kepada-Mu seperti Engkau memuji
terhadap diri-Mu."3
Adapun hadits yang berbunyi:
إِنَّ للهِ تِسعةً وتِسعِين اسما مِائَةً إِلاَّ واحِدةً من َأحصاها دخلَ الْ  جنةَ
Sesungguhnya Allah I memiliki 99 nama, barangsiapa yang dapat
menghitungnya niscaya ia masuk ke dalam surga."4
Yang dimaksud dengan menghitung asma Allah I ialah menghapalnya,
memahaminya maknanya, dan menghamba kepada Allah I berdasarkan
asma-Nya. hadits ini tidak menunjukkan bahwa asma` Allah I hanya 99
saja. Adapun makna hadits yang berbunyi "barangsiapa yang dapat
menghitungnya niscaya ia masuk ke dalam surga" merupakan kalimat
pelengkap, bukan kalimat terpisah dan berdiri sendiri. Sebagai contoh: bila
seseorang berkata: 'Saya mempunyai uang Rp. 100.000.000 yang saya
siapkan untuk sedekah', berarti bisa saja ia mempunyai uang selain RP.
100.000.000 yang disiapkan untuk berbagai macam keperluan lainnya.
Adapun yang berkenaan dengan penyusunan dan penentuan jumlah asma`
Allah I, maka hadits tersebut adalah dha`if (lemah) jadi tidak bisa menjadi
hujjah.
6. Ilhad (mengingkari) asma` Allah I ialah tindakan menyelewengkan
asma` dari kebenaran yang wajib dilaksanakan terhadapnya.
Macam-macam ilhad:
2 Muslim (1/183 dan 185) 3 Muslim 1/352 4 HR. al-Bukhari 2595, Muslim 2677, Ahmad 7493, at-Tirmidzi 3506, Baihaqi
19601, Ibnu Majah 3860.
8
a. Mengingkari sesuatu dari asma` Allah I, sifat dan hukum yang
terkandung di dalamnya. Seperti tindakan kaum Jahmiyah dan
golongan lain dari ahli ta'thil. Menurut mereka, sesungguhnya asma`
adalah lafazh yang kosong, tidak mengandung sifat dan makna.
Mereka memberikan nama kepada-Nya as-Sami`, al-Bashir, al-Hayy,
ar-Rahim, al-Mutakallim, dan al-Murid. Namun mereka mengatakan:
Tiada kehidupan bagi-Nya, tiada pendengaran, tiada penglihatan, tiada
perkataan, tiada kehendak yang berdiri dengan-Nya. Ini adalah ilhad
paling besar pada asma`, baik secara akal, syara`, bahasa, dan fithrah.
b. Menjadikan asma` Allah I mempunyai indikasi (dalalah) yang serupa
dengan sifat makhluk. Seperti tindakan ahlu tasybih
(antropomorphism). Golongan ini adalah kebalikan dari golongan
pertama yang mengingkari sifat Allah I dan menolak sifat
kesempurnaan-Nya.
c. Menamai Allah I dengan nama yang tidak disebutkan-Nya untuk diri-
Nya dan tidak disebutkan oleh Rasul-Nya dalam hadits yang shahih.
Seperti tindakan kaum Nasrani yang menamai-Nya 'Bapa' dan
tindakan filosof yang menyebut-Nya 'Al`ilah al-Fa`ilah' (Efficient Cause).
Karena Asma` Allah I adalah tauqifiyah, maka menamai Allah I yang
bukan berasal dari Allah I atau dari Rasul-Nya r, berarti
menyelewengkan Asma` Allah I dari kebenaran.
d. Mengambil dari Asma` Allah I nama untuk berhala. Seperti tindakan
kaum musyrikin yang menamai berhala mereka dengan nama al-'Uzza
berasal dari al-'Aziz dan berhala al-Laat yang berasal dari al-Ilah.
Ilhad dengan segala macamnya adalah haram, karena Allah I mengancam
orang yang berbuat ilhad dengan firman-Nya:
وللهِ ْالأَسمآءُ الْ  حسنى فَاد  عوه بِها وذَ  روا الَّذِين يلْحِ  دونَ فِي َأسمائِهِ سي  جزونَ ماكَانوا يعمُلونَ
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti
mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-A'raaf : 180)
e. Mensifati-Nya dengan sifat yang Dia I Maha Besar dan Maha Suci dari
sifat kekurangan, seperti perkataan Yahudi yang paling jahat: "Innahu
9
faqiir (bahwasanya Dia fakir) dan perkataan mereka bahwa Dia
beristirahat setelah menciptakan makhluk-Nya. Dan perkataan
mereka:
ي  د اللهِ مغُلولٌَة غُلَّت َأيدِيهِم وُلعِنوا بِما قَاُلوا
Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu
dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan
itu. (QS. Al-Maidah:64)
Dan perkataan-perkataan serupa dengan itu termasuk ilhad pada Asma`
dan sifat Allah I.
7. Dilalah Asma`ul Husna.
Seluruh asma` Allah I adalah husna, artinya Maha Indah dan
semuanya menunjukkan kesempurnaan dan pujian yang absolut.
Seluruhnya diambil dari sifat-sifat-Nya. Maka sifat yang ada padanya tidak
menafikan 'alamiyah (nama) dan 'alamiyah tidak menafikan sifat, dan
dilalahnya (indikasinya) ada tiga:
a. Dilaalah muthabaqah (adekusi), ketika kita tafsirkan nama dengan
seluruh yang ditunjukkannya.
b. Dilaalah tadhamun (inklusi), ketika kita tafsirkan dengan sebagian
yang ditunjukkannya.
c. Dan dilaalah iltizam (konsekuensi), ketika kita menunjukkannya atas
yang lainnya dari asma` (nama-nama) sebagai konsekuensi nama ini
atas nama-nama yang lain.
Misalnya: ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), yang menunjukkan adanya
sifat rahmah dan Dzat adalah dilaalah muthabaqah (adekusi), dan atas
salah satunya adalah dilaalah tadhamun (inklusi) karena ia termasuk
dalam kandungannya. Dan indikasinya atas Asma` yang tidak didapatkan
sifat rahmat kecuali dengan tetapnya Asma` tersebut, seperti hayat (hidup),
ilmu (pengetahuan) iradah (kehendak), qudrat (kekuasaan) dan yang
lainnya adalah dilaalah iltizam (konsekuensi). Bagian yang terakhir ini
memerlukan pemikiran yang kuat dan perenungan. Para ahli ilmu berbeda
pendapat dalam hal ini. Maka jalan untuk mengenalnya adalah ketika anda
memahami lafazh (kata) dan makna yang terkandung di dalamnya dan
10
anda memahaminya dengan baik, maka pikirkan maknanya yang tidak
akan sempurna tanpa makna tersebut.
8. Asma` Allah I dan sifat-sifat-Nya hanya untuk-Nya, dan persamaan
nama tidak menunjukkan persamaan yang diberi nama.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Allah I menamakan diri-Nya
dengan beberapa nama dan menamai sifat-sifat-Nya dengan beberapa
nama. Apabila Asma` tersebut diidhafahkan (disandarkan) kepada-Nya
maka asma` itu hanya untuk-Nya, tiada sesuatupun yang menyekutui-Nya
pada sifat itu. Dia I juga memberi nama kepada sebagian makhluk-Nya
dengan beberapa nama yang hanya untuk mereka. Persamaan nama tidak
menunjukkan persamaan yang diberi nama. Allah I menamai diri-Nya
Hayy (Yang Maha Hidup) dalam firman-Nya:
اللهُ لآَ إِلَه إِلاَّ هو الْحي الْقَيوم
Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus
mengurus (makhluk-Nya); (QS. Al-Baqarah :255)
Dan Dia I memberi nama kepada sebagian hamba-Nya Hayy (yang
hidup) dalam firman-Nya:
ي  خرِج الْحي مِن الْميتِ وي  خرِج الْميت مِن الْحي
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati
dari yang hidup (QS. Ar-Ruum:19)
Pengertian al-hayy (yang hidup) dalam surah ar-Rumm ini tidak seperti
pengertian al-Hayy (Yang Maha Hidup) dalam surah al-Baqarah yang
disebutkan sebelumnya.
Dalam ayat lain, Allah I menamakan diri-Nya 'Aliim, Haliim (Yang
Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun), dan Dia I memberikan nama
kepada sebagian hamba-Nya dengan nama 'Aliim, seperti dalam firman-Nya:
و ب شروه بِغلاَمٍ علِيمٍ
dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang
anak yang alim (Ishak). (QS. Adz-Dzariyaat :28)
maksudnya: Nabi Ishaq u. Sebagaimana Dia juga menamai yang lain
Halim, seperti dalam firman-Nya:
11
فَبشرناه بِغلاَمٍ حلِيمٍ
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
(QS. Ash-Shaaffaat :101)
Maksudnya: Ismail u. 'Aliim dalam ayat di atas bukan seperti al-'Alim yang
merupakan asma` Allah I, dan Halim dalam ayat di atas bukan seperti
pengertian al-Halim yang merupakan salah satu dari asma` Allah I.
Dan Allah I menamakan diri-Nya Samii' dan Bashiir dalam firman-
Nya:
إِنَّ اللهَ يأْمر ُ كم َأن تؤدوا ْالأَماناتِ إِلَى َأهلِها وإِذَا حكَمتم بين الناسِ َأنْ تح ُ كموا بِالْعدلِ إِنَّ اللهَ نِعِما يعِظُ ُ كم بِهِ
إِنَّ اللهَ كَانَ سمِيعا بصِيرا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisaa`:58)
Dan Dia I menamai sebagian makhluk-Nya dengan nama 'samii' dan
bashir' dalam firman-Nya:
إِنا  خلَقْنا ْالإِنسانَ مِن ن ْ طفَةٍ َأمشاجٍ نبتلِيهِ فَ  جعلْناه سمِيعا بصِيرا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan),
karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. Al-Insaan :2)
As-Samii' dalam ayat ini bukan seperti as-Samii' yang merupakan salah
satu dari asma` Allah I yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Demikian
pula al-bashiir dalam ayat ini tidak sama pengertiannya dengan al-Bashiir
yang merupakan salah satu asma` Allah I yang dalam surah an-Nisaa`
yang disebutkan sebelumnya.
Dia I menamai diri-Nya dengan nama ar-Ra`uf dan ar-Rahim, seperti
dalam firman-Nya:
إِنَّ اللهَ بِالناسِ َلرءُوفُ رحِيمُ
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
(QS. Al-Baqarah:143)
Dan Dia I memberi nama kepada sebagian makhluk-Nya dengan
nama ar-Ra`uf ar-Rahim dalam firman-Nya:
12
َلقَد  جآءَ ُ كم ر  سو ٌ ل من َأنُفسِ ُ كم عزِيز علَيهِ ماعنِتم حرِيص علَي ُ كم بِالْ  مؤمِنِين رءُوف رحِي  م
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orangorang
mu'min. (QS. At-Taubah:128)
Sifat ar-Ra`uf pada ayat sebelumnya tidak seperti sifat ra`uf pada ayat
ini, dan sifat Rahim pada ayat sebelumnya tidak seperti sifat rahim para
ayat ini.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 'Nama-nama yang digunakan
kepada Allah I dan kepada hamba, seperti al-Hayy, as-Samii', al-Bashiir, al-
'Aliim, al-Qadiir dan yang semisalnya, ada tiga golongan dalam
memandangnya:
a. Segolongan dari mutakallimin berkata: ia adalah hakikat pada
hamba dan majaaz pada Rabb. Ini adalah pendapat kaum Jahmiyah
yang ekstrim. Ini adalah ucapan yang paling keji dan paling
merusak.
b. Pendapat sebaliknya, nama-nama itu adalah hakikat pada Rabb,
majaaz pada Rabb. Ini adalah pendapat Abul-Abbas an-Naasyi.
c. Sesungguhnya nama-nama itu adalah hakikat pada Rabb dan
hamba, dan inilah pendapat ahlus-sunnah. Perbedaan dua hakikat
pada keduanya tidak mengeluarkannya dari kondisinya yang
merupakan hakekat pada keduanya. Bagi Rabb dari nama-nama itu
yang sesuai dengan kebesaran-Nya, dan bagi hamba dari nama itu
yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai hamba.
9. Urutan menjaga (menghapal, memahami dan mengamalkan) Asma`
Allah I Yang Maha Indah. Barangsiapa yang menjaganya niscaya masuk
surga.
Ini adalah keterangan penghapalan asma'-Nya 'barangsiapa yang
menghapalnya niscaya masuk surga'.
Pertama: menghapal lafazh dan bilangannya.
Kedua : Memahami makna dan yang diindikasikannya.
13
Ketiga: Berdoa dengannya, seperti firman Allah:

وللهِ ْالأَسمآءُ الْ حسنى فَاد عوه بِها

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asma-ul husna itu. (QS. Al-A'raaf:180)
Terdapat dua martabat: pertama, adalah memuji dan beribadah.
Kedua, do'a meminta dan memohon. Dia tidak dipuji kecuali dengan asma`-
Nya Yang Husna dan Sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Demikian pula Dia I
tidak diminta kecuali dengannya. Tidak boleh berdo'a dengan kata-kata:
'Hai yang ada (maujud), hai sesuatu, atau hai Dzat ampuni dan kasihilah
aku'. Tetapi Dia diminta dengan nama yang sesuai dengan permintaan.
Yang Berdo'a bertawassul kepada-Nya dengan nama itu. Siapa yang
memikirkan do'a para rasul, apabila doa Nabi Muhammad r, ia akan
mendapatkan doa-doa tersebut sesuai dengan penjelasan di atas.
Kita memohon kepada Allah I agar senantiasa membimbing kita
kepada cahaya-Nya dan memudahkan jalan bagi kita untuk mendapatkan
keridhaan-Nya, sesungguhnya Dia I sangat dekat dan Maha Mengabulkan
doa hamba-Nya.
Rujukan:
بدائع الفوائد: للإمام ابن القيم الجوزية
القواعد المثلى فى الأسماء والصفات : الشيخ محمد صالح العثيمين
شرح أسماء الحسنى فى ضوء الكتاب والسنة: الشيخ سعيد القحطاني

1 komentar: